Efek Domino Kurs Rupiah: Gelombang Kenaikan Harga dan Risiko Defisit Kesehatan

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, memberikan peringatan keras terkait fenomena melemahnya rupiah yang berdampak terhadap harga farmasi hingga derajat kesehatan masyarakat

6 Juni 2026, 12:39 WIB

Jakarta– Melemahnya nilai tukar rupiah yang kini menembus angka Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran baru bagi masyarakat. Selain harga pangan dan BBM, sektor kesehatan kini berada di zona merah.

Pasalnya, ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor yang mencapai 85-90 persen membuat sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi kurs.

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, memberikan peringatan keras terkait fenomena ini.

Menurutnya, kondisi tersebut akan menciptakan “efek domino” yang menyulitkan masyarakat hingga mengancam keberlangsungan industri farmasi nasional.

“Harga obat dan vitamin sudah pasti akan melambung. Ini adalah efek bola salju yang dampaknya sangat kompleks,” ujar Tulus Abadi.

Berikut adalah beberapa poin kritis yang disoroti Tulus terkait dampak kenaikan harga obat akibat kurs rupiah:

Dengan harga obat yang makin mahal, konsumsi obat masyarakat Indonesia—yang saat ini saja sudah tergolong rendah dibandingkan standar global—akan semakin tergerus.

Kenaikan harga obat akan membuat biaya klaim fasilitas kesehatan (faskes) ke BPJS Kesehatan membengkak. Tulus khawatir, jika *cash flow* BPJS Kesehatan terganggu, pelayanan kesehatan bagi peserta bisa ikut menurun karena anggaran yang tersedot untuk menutupi harga obat.

Meskipun cakupan peserta BPJS sudah luas, nyatanya masyarakat masih mengeluarkan biaya mandiri hingga Rp 180 triliun per tahun untuk berobat.

Harga obat yang naik akan semakin memberatkan pengeluaran pribadi masyarakat.

Industri farmasi skala menengah-bawah terancam gulung tikar karena biaya bahan baku impor yang terlalu mahal. Jika mereka berhenti berproduksi, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi sulit dihindari.

Tulus juga menyoroti anomali harga obat di Indonesia sudah tergolong salah satu yang termahal di dunia, bahkan bisa 2-6 kali lipat lebih tinggi. Pelemahan rupiah kini berpotensi membuat posisi Indonesia makin parah.

Tulus Abadi menegaskan akar masalahnya adalah ketergantungan kronis terhadap bahan baku impor.

Padahal, Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa yang bisa diolah menjadi obat (fitofarmaka).

Ia menduga ada “permainan” dari pihak-pihak tertentu yang sengaja melanggengkan impor untuk mengejar keuntungan semata.

Menurutnya, sudah saatnya pemerintah serius melakukan riset dan pengembangan mandiri agar Indonesia tidak terus-terusan tersandera oleh nilai tukar dolar.

“Harus ada sinergi nyata antara industri farmasi dan pemerintah untuk memangkas ketergantungan ini. Miris rasanya jika kita terus bergantung pada luar negeri untuk hal sepenting kesehatan,” pungkas Tulus. ***

Berita Lainnya

Terkini