Di sebuah sudut tenang Kabupaten Rembang, semangat Kartini tidak sedang dipidatokan. Ia justru hadir lewat aroma lem, potongan kain flanel, dan tumpukan pita berwarna-warni di tangan Muamluaturrahmah. Di tangan perempuan ini, limbah perca yang mulanya tak dilirik, disulap menjadi karya yang punya nilai jual sekaligus identitas.
Kisah kreatif ini sejatinya bermula dari selasar Pesantren Raudhatut Thalibin. Menjadi santriwati di bawah asuhan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sejak tahun 2005, perempuan yang akrab disapa Muam ini tidak hanya pulang membawa bekal kitab kuning. Selama sembilan tahun nyantri, ia menyerap ilmu kehidupan melalui pelatihan kerajinan tangan.
Kenangan masa itu masih terekam jelas di benaknya. Dengan nada jenaka, ia mengingat betapa haus dirinya akan ilmu keterampilan.
“Sampai-sampai sarung bantal dan kerudung semua saya sulami, saking semangatnya ingin bisa,” kenangnya mengutip rembangkab.g.id.
Hasrat untuk “memperindah sesuatu” itulah yang kemudian ia bawa keluar dari gerbang pondok. Bersama sang suami, ia mulai merintis langkah kecil: membuat bros sederhana.
Muam bukan tipe pengrajin yang cepat puas. Meski dasar ilmunya didapat dari pesantren, ia terus “mengaji” pada zaman. Video tutorial di YouTube dan diskusi di komunitas media sosial menjadi gurunya yang baru. Hasilnya? Produknya berkembang dari sulaman konvensional menjadi kerajinan resin logo yang modern dan elegan.
Kini, bros karyanya menjadi langganan sekolah, organisasi, hingga grup hadroh yang ingin tampil kompak. Produk unggulannya adalah bros dengan logo khusus yang dilapisi resin bening—sebuah proses yang menuntut ketelitian tinggi.
“Membutuhkan kreativitas yang tidak asal tempel. Ada sentuhan rasa dan ketelatenan dalam setiap detailnya,” jelas Muam. Baginya, setiap bros adalah representasi naluri perempuan yang senang berhias dan memperindah diri.
Menembus Pasar Digital
Dahulu hanya dipasarkan dari mulut ke mulut, kini karya santri Gus Mus ini telah melanglang buana di jagat digital. Lewat skema reseller dan berbagai marketplace, bros-bros cantiknya menjangkau majelis taklim hingga kelompok sosial di berbagai daerah.
Muamluaturrahmah adalah bukti nyata bahwa kemandirian bisa lahir dari ketelatenan. Dari pesantren hingga ke pasar digital, ia membuktikan bahwa kreativitas adalah ibadah dalam bentuk lain. Ia tidak hanya sedang merangkai bros; ia sedang menjahit harapan dan kemandirian, satu demi satu, dengan penuh rasa. ***

