Sedekah Bumi Banjarsari 2026: Syukur, Kebersamaan, dan Pesan Luhur Budaya

Kepala Desa Banjarsari, Haryanto, menegaskan Sedekah Bumi adalah ritual tahunan, juga ikhtiar spiritual dan kultural untuk keselamatan serta kemakmuran desa.

4 Mei 2026, 19:25 WIB

Demak – Desa Banjarsari kembali menorehkan jejak tradisi penuh makna lewat gelaran Sedekah Bumi pada 2–3 Mei 2026. Di halaman Balai Desa, warga berkumpul dengan wajah berseri, merayakan limpahan hasil bumi sekaligus mempererat ikatan kebersamaan.

Tradisi khas Segobari’an menjadi magnet utama. Sembilan tampah berisi sego barik’an yang dibungkus daun pisang, serta gunungan songo penuh hasil bumi dan aneka panganan, dibagikan kepada warga.

Simbol sederhana ini menyimpan makna besar: rasa syukur kepada Allah SWT dan semangat gotong royong yang tak lekang oleh waktu.

Puncak acara berlangsung meriah dengan Ngaji Budaya bersama dalang kondang Ki Geger Gember. Lewat wayang kulit, ia menuturkan pitutur luhur yang sarat pesan moral: menjaga alam, mensyukuri nikmat, dan hidup rukun.

Pertunjukan ini hiburan dan dakwah budaya yang menggetarkan hati.

Semarak semakin terasa dengan hadirnya bintang tamu: Bagong dan Gareng dari TVRI, legenda kasidah Nasida Ria Hj. Muthoharoh dari Semarang, serta MC kondang RSKW Lulu Nagita. Kehadiran mereka membuat suasana semakin hidup dan penuh antusiasme.

Kepala Desa Banjarsari, Haryanto, menegaskan Sedekah Bumi adalah ritual tahunan, juga ikhtiar spiritual dan kultural untuk keselamatan serta kemakmuran desa.

“Segobarian ini bentuk syukur kami. Semoga hasil bumi tahun depan lebih melimpah dan warga semakin sejahtera,” ujarnya penuh harap.

Rangkaian acara juga diwarnai doa bersama di mushola dan masjid, ziarah ke makam Bubakyoso, khataman Qur’an 30 juz, kirab budaya Adum Sego Barik’an, hingga gebyur dawet yang menambah semarak pesta rakyat.

Sedekah Bumi Banjarsari 2026 pun menjadi bukti nyata: tradisi bukan sekadar warisan, melainkan sumber energi kebersamaan dan doa yang terus mengalir untuk masa depan desa.***

Berita Lainnya

Terkini