Yogyakarta – Perjalanan dokumenter artistik ROOTS – One Hundred Years of Walter Spies in Bali karya Michael Schindhelm resmi merampungkan rangkaian turnya di tanah Jawa.
Setelah menyapa penonton di Yogyakarta dan Magelang, pemutaran film yang menelusuri jejak hidup sang maestro Jerman tersebut ditutup dengan hangat di Bale Banjar Sokasi Café, Ubud, Bali.
Sambutan publik yang antusias, terutama dari kalangan pecinta seni dan ekspatriat, menjadi bukti kuatnya daya tarik narasi sejarah yang diusung film ini.
Yudha Bantono, sosok yang memegang mandat sebagai koordinator pemutaran, mengungkapkan,
ROOTS telah menempuh perjalanan panjang, mulai dari Perth (Australia), Jakarta, hingga menyentuh titik-titik krusial di Yogyakarta dan Magelang seperti Museum OHD, Museum H. Widayat, hingga ISI Yogyakarta.
Menariknya, rute ini bukan sekadar lokasi pemutaran biasa, melainkan napak tilas historis perjalanan Walter Spies yang tiba di Indonesia pada 1925 sebelum akhirnya menetap di Bali.
Yudha pun membeberkan rencana lanjutan untuk membawa film ini kembali ke Jakarta dan Bandung guna memenuhi permintaan penonton yang kian meluas.
Film fiksi dokumenter ‘ROOTS’ menggabungkan elemen arsip dan fiksi untuk membedah kontribusi, kontroversi, hingga dampak warisan Walter Spies terhadap dinamika seni dan budaya Bali modern.
Diskusi pasca-pemutaran pun kerap memantik percakapan kritis mengenai pariwisata, kolonialisme, serta peran seniman masa kini.
Melalui keterlibatan seniman seperti Made Bayak, pemutaran ini bertransformasi menjadi ruang dialog yang sensitif akan isu-isu terkini.
Harapannya, *ROOTS* dapat terus menjadi medan percakapan kritis bagi publik untuk membaca ulang sejarah seni dan mengaitkannya dengan realitas sosial yang terjadi saat ini. ***

