Buleleng – Suasana hangat terasa di Aula Yayasan Dana Punia, Singaraja, saat Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, berbicara dalam RISE Talks pada Sabtu (9/5).
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pendidikan karakter dan kesadaran kolektif masyarakat adalah kunci utama untuk mewujudkan penanganan sampah yang berkelanjutan di Bali.
Menurutnya, persoalan sampah bukan sekadar soal teknis pengelolaan, melainkan juga menyangkut pola pikir dan kebiasaan sehari-hari.
“Sampah akan menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik.Karena itu, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kesadaran bersama dan kebiasaan memilah sampah sesuai jenisnya,” ujarnya.
Putri Koster mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah
Ditekankan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa dampak besar bagi kualitas lingkungan Bali.
Kebijakan pengelolaan berbasis sumber, yang diatur melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 8324 Tahun 2021, juga disebutnya sebagai landasan penting agar desa dan desa adat aktif menyediakan sarana, prasarana, serta sosialisasi berkelanjutan.
Dalam penjelasannya, ia memaparkan pola pemilahan sederhana: sampah organik basah ke tong komposter, organik kering ke teba modern, anorganik 3R ke TPS3R, dan residu ke TPST.
Cara ini diyakini lebih efektif dibandingkan mengolah sampah yang sudah tercampur. Ia juga mengingatkan bahaya plastik sekali pakai, sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018, serta risiko polusi beracun dari kebiasaan membakar plastik.
Selain Putri Koster hadir pula I Gede Sukanaya, Kepala SMKN 1 Kubutambahan, yang menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak keluarga dan sekolah.
Sementara Prof. I Made Yudana dari Undiksha menegaskan, keberhasilan program pengelolaan sampah berbasis sumber sangat bergantung pada kesadaran masyarakat.
“Jangan sampai alam marah terlebih dahulu baru kita memulai,” katanya.
Melalui RISE Talks Singaraja, para narasumber berharap lahir integrasi antara pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan.
Tujuannya jelas: mencetak generasi muda Bali yang disiplin, peduli, dan siap menjaga kelestarian alam serta budaya daerah. ***

