KUR BRI Perkuat Perajin Gerabah Tradisional Badung Jaga Warisan Budaya Bali

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan BRI memiliki komitmen kuat untuk mendampingi dan memberdayakan pelaku UMKM yang tidak sekadar berorientasi bisnis, melainkan turut menjaga kelestarian warisan budaya daerah.

13 Agustus 2026, 19:45 WIB

Mangupura – Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal di Bali terus menunjukkan ketahanannya di tengah dinamika modern.

Di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, sebuah usaha gerabah warisan leluhur yang berdiri sejak dekade 1970-an tetap eksis memenuhi kebutuhan upacara adat, sekaligus menggerakkan roda ekonomi keluarga berkat dukungan pembiayaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Usaha kerajinan tradisional ini dikelola oleh Nyoman Subarana, generasi penerus yang konsisten mempertahankan produksi perlengkapan upacara adat berbahan tanah liat.

Keterampilan membentuk tanah liat tersebut diwariskan secara turun-temurun dari orang tua dan leluhurnya, menjadikan usaha ini sebagai pilar utama penopang ekonomi keluarga hingga kini.

“Dari usaha inilah kami membesarkan keluarga. Hasilnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah anak-anak, hingga membantu perekonomian keluarga besar. Anak kami ada dua. Karena itu, kami berusaha mempertahankan usaha ini agar tetap bisa diwariskan ke generasi berikutnya,” ujar Subarana.

Dalam operasionalnya, Subarana memproduksi berbagai macam perlengkapan upacara keagamaan Hindu di Bali, mulai dari payuk pere, coblong, dulang, carat, hingga aneka wadah sakral untuk rangkaian odalan, piodalan, hingga upacara ngaben.

Permintaan tertinggi biasanya datang dari kebutuhan upacara pengabenan, di mana para pelanggan tetap dapat memesan hingga 4.000 unit dalam satu gelombang pesanan yang berulang setiap dua hingga tiga minggu.

Meski masih mengandalkan proses produksi manual, tantangan utama seperti pengadaan bahan baku tanah liat dari berbagai wilayah di Bali dapat diatasi dengan baik.

Dalam sekali pengadaan bahan baku, Subarana mengeluarkan modal sekitar Rp1 juta. Proses pengerjaannya melibatkan delapan orang tenaga kerja dari lingkungan keluarga sendiri, mulai dari pembentukan, penjemuran di bawah sinar matahari, hingga pembakaran massal menggunakan kayu bakar dan jerami.

Untuk menjaga kelancaran dan meningkatkan kapasitas produksi, Subarana memperkuat permodalan usahanya dengan memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp100 juta dengan tenor lima tahun.

Pembiayaan ini sangat diandalkannya guna mengantisipasi lonjakan permintaan pasar yang tinggi.

“KUR sangat membantu, terutama ketika pesanan sedang banyak. Modal bisa dipakai membeli bahan baku lebih awal sehingga produksi tidak terhambat,” ungkapnya.

Langkah strategis perajin lokal ini mendapat apresiasi penuh dari pihak perbankan. Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan BRI memiliki komitmen kuat untuk mendampingi dan memberdayakan pelaku UMKM yang tidak sekadar berorientasi bisnis, melainkan turut menjaga kelestarian warisan budaya daerah.

Menurut Hery, sektor UMKM berbasis budaya seperti yang ditekuni Nyoman Subarana memiliki peran ganda yang strategis, yakni menggerakkan ekonomi kerakyatan sekaligus merawat identitas kultural Bali yang sarat akan tradisi.

BRI melihat pelaku UMKM seperti Bapak Nyoman Subarana bukan hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan selama puluhan tahun.

“Melalui pembiayaan KUR, kami ingin memastikan mereka memiliki akses permodalan yang memadai sehingga mampu meningkatkan kapasitas usaha tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi kekuatan utamanya,” jelas Hery.

Lebih lanjut, Hery memaparkan bahwa model bisnis yang berakar pada kearifan lokal memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luas bagi perekonomian regional.

Selain menyerap tenaga kerja lokal dan melibatkan rantai pasok penyedia bahan baku, sektor ini terbukti memiliki daya tahan yang tangguh karena tumbuh selaras dengan kebutuhan fundamental masyarakat.

“BRI percaya UMKM berbasis kearifan lokal memiliki daya tahan yang kuat karena tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, kami akan terus memperluas akses pembiayaan produktif agar pelaku usaha tradisional semakin berkembang, lebih sejahtera, dan mampu mewariskan usahanya kepada generasi berikutnya,” pungkas Hery. ***

Berita Lainnya

Terkini