Luncurkan Film Dokumenter Celukan Bawang, DGI Tegaskan LNG Bukan Solusi Mandiri untuk Bali

DGI menegaskan film ini baru merupakan tahap awal dari serangkaian upaya advokasi untuk mencegah Bali mengulangi kesalahan kebijakan energi berbasis fosil yang merusak ruang hidup warga

10 Oktober 2026, 17:27 WIB

Denpasar – Jaringan Don’t Gas Indonesia (DGI) turut memberi pandangan saat peluncuran film dokumenter berjudul “Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali” di Denpasar, Sabtu (10/10/2026).

Melalui peluncuran film yang digagas Rhizoma Indonesia, DGI membantah klaim proyek gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) merupakan wujud ketermandirian energi maupun solusi energi bersih.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan diskusi publik tersebut menghadirkan Koordinator DGI Roberto Hutabarat, Wahyu Widianto dari Rhizoma Indonesia, serta Amanda Faramerta.  

Koordinator DGI, Roberto Hutabarat, mengungkapkan narasi “Bali Mandiri Energi” kerap dikampanyekan namun fakta di lapangan justru menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi pada pihak luar.

“Tidak ada mandirinya, karena gasnya berasal dari hulu di Papua (BP Tangguh di Teluk Bintuni). Kepemilikan sahamnya dikuasai perusahaan asing, dan teknologi pembangkitnya dikuasai korporasi luar negeri dari Jepang, Korea, hingga Amerika Serikat,” ujar Roberto dalam keterangannya.  

Film dokumenter yang diputar menjadi penyeimbang, pembanding dari narasi energi bersih yang selama ini dipublikasikan oleh BUMN maupun pemerintah.

Dokumenter tersebut merekam fakta lapangan dan kesaksian langsung warga di kawasan Celukan Bawang.  

Film dokumenter merekam dampak riil proyek energi di wilayah pesisir Celukan Bawang, termasuk pendangkalan laut dan munculnya bau menyengat amoniak yang dikeluhkan warga sekitar.  

DGI menilai klaim LNG sebagai gas ramah lingkungan sebagai bentuk pencitraan yang mengabaikan kenyataan ekologis dan riset ilmiah.  

Pemutaran film ini ditujukan kepada masyarakat umum, komunitas lokal, dan media jurnalis agar narasi kebijakan energi Bali tidak didominasi oligarki dan korporasi.  

DGI menegaskan film ini baru merupakan tahap awal dari serangkaian upaya advokasi untuk mencegah Bali mengulangi kesalahan kebijakan energi berbasis fosil yang merusak ruang hidup warga.***

Berita Lainnya

Terkini