Pembenahan Tata Kelola Berujung Mundurnya Puluhan Mitra dan Staf, CEO OTC Bali Buka Suara

Mengingat sebagian besar mitra yang mundur tersebut juga memegang peranan dalam struktur manajemen, Wayan Rediasa akhirnya memutuskan untuk menonaktifkan mereka secara resmi pada 16 Maret 2026 guna memperjelas tanggung jawab operasional.

7 Oktober 2026, 08:07 WIB

Denpasar – Upaya pembenahan tata kelola manajemen di lingkungan Overseas Training Centre (OTC) Bali yang digulirkan pada awal 2026 berujung pada dinamika internal yang cukup besar. Langkah evaluasi yang dimaksudkan untuk memperbaiki sistem keuangan dan operasional justru memicu mundurnya puluhan mitra serta gelombang pengunduran diri staf.

CEO OTC Bali, I Wayan Rediyasa, SE., membeberkan kronologi lengkap kejadian tersebut saat ditemui awak media di Bali, Selasa (6/10/2026).

Menurut Redi, langkah evaluasi ini bermula dari kesepakatannya bersama Mr L untuk meninjau kembali sistem manajemen, pengelolaan keuangan, serta pola kerja sama dengan para mitra.

“Dalam proses pembenahan tersebut, kami menunjuk Prof. Putu Astawa untuk menangani aspek manajemen keuangan dan Prof. Wayan Wisnu pada bidang hukum,” ujar Redi.

Berdasarkan hasil penelusuran awal yang dilakukan Prof. Putu Astawa pada 19 Januari 2026, ditemukan sejumlah kondisi dalam tata kelola keuangan yang dinilai merugikan pihak lain dan memerlukan perbaikan segera.

Sebagai tindak lanjut, Redi menunjuk akuntan publik Arnaya Dharmayasa guna melaksanakan audit eksternal secara menyeluruh. Kendati demikian, proses pemeriksaan awal di lapangan sempat menghadapi hambatan teknis dan akses data, sehingga proses audit hingga kini masih berjalan.

Dinamika internal kian klimaks ketika upaya mediasi diinisiasi oleh IDBN pada 19 Februari 2026 tidak menemui kesepakatan bersama, yang berujung pada keputusan Mr L untuk mundur dari OTC Bali.

Pertemuan lanjutan dengan para mitra sehari setelahnya juga berujung pada keputusan pengunduran diri sebagian besar peserta.

Dari sekitar 60 mitra yang ada, Redi menyebut sebanyak 54 orang menyatakan mundur dan menuangkannya dalam berita acara rapat.

Mengingat sebagian besar mitra yang mundur tersebut juga memegang peranan dalam struktur manajemen, Redi akhirnya memutuskan untuk menonaktifkan mereka secara resmi pada 16 Maret 2026 guna memperjelas tanggung jawab operasional.

Imbas dari gejolak tersebut berlanjut pada klaim pengunduran diri massal sekitar 95 persen karyawan di seluruh cabang, baik di Bali maupun di Solo, yang berhenti tanpa proses serah terima pekerjaan yang memadai.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan administratif, hilangnya akses data fasilitas di cabang Gianyar, hingga kemunculan lembaga baru bernama OTC International, Redi menegaskan komitmennya untuk tetap fokus melanjutkan pembenahan.

“Sekarang saya lakukan dengan konsep ini. Saya berkarya, saya lakukan,” pungkas Redi, menegaskan langkah penataan ulang demi masa depan lembaga yang telah dirintisnya sejak 2014 tersebut.***

Berita Lainnya

Terkini