Rayakan IdulAdha dengan Prinsip ‘Keramahtamahan’, Bukan Sekadar Ritual

Kementerian Agama memperkirakan perputaran ekonomi dari sektor kurban tahun ini mencapai Rp 26,89 triliun, yang melibatkan sekitar 2 juta keluarga dengan total 1,59 juta ekor hewan kurban.

28 Mei 2026, 00:52 WIB

JakartaIdulAdha tahun ini, yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, diprediksi akan menjadi momen ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia.

Kementerian Agama memperkirakan perputaran ekonomi dari sektor kurban tahun ini mencapai Rp 26,89 triliun, yang melibatkan sekitar 2 juta keluarga dengan total 1,59 juta ekor hewan kurban.

Namun, di balik angka fantastis tersebut, ada pesan penting mengenai tata cara penyembelihan yang perlu diperhatikan agar ibadah ini lebih bermakna.

Tulus Abadi, Pegiat Perlindungan Konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), menekankan  menyembelih kurban tidak hanya soal memenuhi syariat agama, tetapi juga harus mengedepankan prinsip “keramahtamahan”

“Menyembelih hewan sejatinya bukan ritual ibadah saja, namun juga idealnya berbasis keramahtamahan, yakni ramah terhadap hewan, lingkungan, kesehatan, serta hak-hak anak,” ujar Tulus.

Untuk mewujudkan prosesi kurban yang lebih etis dan sehat, Tulus membagikan empat poin utama yang sebaiknya diterapkan panitia kurban maupun masyarakat:

Kesejahteraan hewan harus diperhatikan sejak masa pemeliharaan, bukan hanya saat disembelih.

Tulus menyarankan agar penyembelihan wajib dilakukan oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) yang kompeten dan memastikan pisau benar-benar tajam demi meminimalisir rasa sakit pada hewan.

Panitia diminta berhenti membuang limbah seperti darah dan kotoran hewan langsung ke sungai karena berisiko menyebarkan penyakit. Selain itu, penggunaan plastik pembungkus daging sebaiknya dikurangi.

“Gunakan kemasan ramah lingkungan seperti daun jati atau daun pisang. Jika harus memakai plastik, pastikan jenis food grade dan biodegradable,” tambah Tulus.

Area penyembelihan harus memenuhi standar higienitas. Tulus secara tegas mengingatkan agar lokasi penyembelihan dijadikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Tujuannya agar daging kurban yang akan dibagikan tidak terkontaminasi oleh paparan asap rokok yang berbahaya.

Aksi penyembelihan sebaiknya tidak disaksikan oleh anak-anak di bawah umur. Hal ini penting untuk menjaga psikologis anak agar tidak terpapar nuansa sadisme yang tidak sesuai dengan usia mereka.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, perayaan Idul Adha diharapkan tidak hanya menjadi sarana ibadah yang sah secara agama, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan perlindungan anak.***

Berita Lainnya

Terkini