Denpasar – Bagi Magistyo Tahun Emas Raharjo atau yang akrab disapa Magis seni bukan sekadar urusan memahat atau mencetak.
Di balik deretan karya megah berbahan aluminium dan kayu jati milik PT Timboel, ada sebuah ritual sakral yang menjadi “bahan bakar” kreativitasnya: sarapan pagi.
Setiap hari, di meja makan rumah mereka di Yogyakarta, Magis dan sang ayah (Almarhum Pak Timbul)—yang juga merupakan dosen di ISI Yogyakarta—duduk bersama. Ritual ini telah berlangsung sejak Magis lahir.
Di sanalah, sembari menikmati hidangan, ide-ide segar didiskusikan tanpa henti.
“Proses kreatif kami terjadi di meja makan. Kami mendiskusikan apa pun yang ditemukan hari itu. Ritual itu dijalankan Bapak bersama Ibu hingga hari ini tetap menjadi fondasi kami,” kenang Magis penuh hangat.
Meski sama-sama kreatif, ayah dan anak ini memiliki cara observasi yang kontras. Jika sang ayah adalah pembaca literatur yang tekun, Magis lebih memilih menyerap energi dari luar dengan berjalan-jalan dan mengunjungi galeri.
Perbedaan ini justru melahirkan harmoni dalam karya-karya mereka yang kini menghiasi pameran di Sudamala.
Salah satu ikon yang paling menonjol adalah figur kuda. Bagi mereka, kuda bukan sekadar hewan, melainkan simbol kecantikan, kejantanan, dan kekuatan yang sangat lekat dengan budaya Yogyakarta.
Menariknya, karya-karya ini sering menggabungkan material aluminium dengan limbah kayu jati sisa produksi furnitur yang tak terpakai.
Karya PT Timboel bukan pemain baru di kancah internasional. Sejak tahun 1995, ribuan karya telah lahir, mulai dari terakota hingga logam.
Setiap bulannya, minimal satu kontainer (bahkan mencapai enam kontainer saat permintaan tinggi) dikirim ke mancanegara.
Pasar Utama: Amerika Serikat mendominasi sekitar 70% penjualan, disusul oleh Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Spanyol.
Meski situasi perang di Timur Tengah mulai memengaruhi logistik dan biaya pengiriman, Magis tetap optimis karena kualitas karya yang mereka miliki sulit digantikan.
Tak hanya soal bisnis, Magis juga membawa misi sosial. Ia mengenang bagaimana mereka pernah menyumbangkan sebuah patung singa sepanjang 6 meter untuk amal.
Seluruh hasil penjualannya didonasikan untuk korban gempa Palu—sebuah bentuk balas budi karena mereka pun pernah merasakan bantuan saat gempa Yogyakarta 2006 silam.
Kehadiran karya Magis di Bali melalui kolaborasi dengan Sudamala Resorts disambut antusias oleh Ricky Putra, perwakilan dari Sudamala.
Ricky menyebutkan eksibisi ini merupakan kesempatan luar biasa untuk memberikan variasi seni kepada publik, melampaui pameran lukisan konvensional.
“Visi owner kami, Pak Ben Subrata, memang selalu mendukung dunia seni. Dengan adanya variasi karya seperti ini, kami berharap bisa memotivasi seniman lokal maupun nasional untuk terus berkarya,” ujar Ricky.
Pameran yang menampilkan lebih dari 30 karya ini diharapkan menjadi magnet bagi para kolektor dan penikmat seni di Bali.
Bagi Magis, ini adalah cara ia berkomunikasi dengan dunia—melanjutkan nafas seni yang dulu selalu ia bicarakan di meja makan bersama sang ayah.***

