Rhizoma Indonesia Rilis Film Dokumenter ‘Celukan Bawang’, Soroti Kerusakan Laut Bali Utara

Amanda Faramerta peniliti Rhizoma Indonesia memaparkan berbagai ancaman nyata yang dihadapi oleh ekosistem pesisir dan laut di Bali Utara.

10 Oktober 2026, 21:27 WIB

Denpasar – Organisasi masyarakat sipil Rhizoma Indonesia secara resmi meluncurkan film dokumenter terbarunya yang menyoroti dampak lingkungan dari pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng. Dalam konferensi pers yang digelar di Denpasar, Sabtu (10/10/2026),

Amanda Faramerta peniliti Rhizoma Indonesia memaparkan berbagai ancaman nyata yang dihadapi oleh ekosistem pesisir dan laut di Bali Utara.

Amanda mengungkapkan keberadaan infrastruktur energi tersebut memicu kekhawatiran serius terhadap kelestarian terumbu karang.

Berdasarkan data dari Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), titik-titik di sekitar PLTU Celukan Bawang merupakan kawasan terumbu karang penting yang kini terancam oleh aktivitas sedimentasi serta keluaran air bahang (thermal effluent).

“Kedua faktor tersebut, baik sedimentasi maupun air bahang, berpotensi besar merusak terumbu karang di sekitar lokasi yang telah diidentifikasi berdasarkan rencana tata ruang dan aspirasi warga setempat,” ujar Amanda dalam sesi konferensi pers, Sabtu (10/10/2026).

Selain isu sedimentasi, Amanda juga menyoroti peningkatan kebisingan di perairan akibat masifnya aktivitas transportasi laut. Perairan Celukan Bawang dikenal padat oleh kapal-kapal industri besar yang mengangkut batu bara.

Ironisnya, tekanan serupa juga terjadi di perairan kawasan wisata Lovina. Meskipun kapal-kapal wisata yang beroperasi berukuran lebih kecil, jumlahnya yang masif serta bisingnya baling-baling kapal telah mengubah lanskap ekologis di sana.  

Perubahan Perilaku Wisata Lumba-lumba: Aktivitas dolphin watching di Lovina dinilai kian bergeser menjadi dolphin hunting.

Pergerakan kapal wisata yang masif kerap mengejar kelompok lumba-lumba secara langsung dan mempersempit ruang jelajah alami mamalia laut tersebut.  

Akumulasi kebisingan dan penyempitan ruang laut dikhawatirkan dapat membingungkan populasi lumba-lumba serta mamalia laut lainnya di perairan Bali Utara secara umum.  

Rhizoma Indonesia berharap pemutaran film dokumenter ini dapat membuka ruang diskusi publik yang lebih luas bagi para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi dampak lingkungan jangka panjang dari pembangunan industri di wilayah pesisir Bali Utara.***

 

Berita Lainnya

Terkini