![]() |
| webinar bertema Sri Kesari Warmadewa -Menjenguk Kembali Proses Pemberadaban Bali, diselenggarakan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana dan Paiketan Krama Bali/ist |
Denpasar – Jejak sejarah panjang peradaban Bali sepanjang tukad
Petanu-Pakerisan yang mewariskan banyak legacy yang patut menjadi bahan
pembelajaran hari ini menunjukkan bahwa peradaban Bali dibangun di lembah
sungai.
“Ini dibuktikan dengan banyaknya tempat pemujaan, pertapaan dan pusat
pemerintahan di lokasi tersebut,” ungkap Koordinator Staf Khusus Presiden,
AGGN Ari Dwipayana menjadi pembicara kunci pada webinar bertema Sri Kesari
Warmadewa -Menjenguk Kembali Proses Pemberadaban Bali, yang diselenggarakan
Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana bekerjasama dengan Paiketan
Krama Bali (4/2/2021).
Webinar mengulas kilas balik proses pemberadaban Bali dari nol kilometer
Prasasti Blanjong ini menampilkan pembicara Sugi Lanus, seorang pakar
manuskrip Bali dan Jawa Kuno.
Mengawali acara, Ari menekankan pentingnya pemahaman sejarah sebagai cara
untuk mengingat masa lalu, dalam konteks mencari obat atau tamba eling dari
masa kini.
Dengan menempatkan sejarah peradaban sebagai obat atau tamba, sejarah akan
menjadi instrumen yang mempersatukan sekaligus sebagai sarana untuk melakukan
introspeksi (mulat sarira), untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.
Jejak sejarah panjang peradaban Bali sepanjang tukad Petanu-Pakerisan yang
mewariskan banyak legacy yang patut menjadi bahan pembelajaran hari ini.
Diantaranya, realitas bahwa peradaban Bali dibangun di lembah sungai, yang
dibuktikan dengan banyaknya tempat pemujaan, pertapaan dan pusat pemerintahan
dilokasi tersebut.
Realitas itu seharusnya memberikan kesadaran pada kita untuk menjaga
sumber-sumber mata air, aliran sungai sebagai sumber kehidupan.
Dikatakan, peradaban air ini juga memunculkan sistem religi yang memuliakan
air (Gama Tirtha).
Dari sejarah kita juga mengetahui kemampuan nenek moyang kita dalam penguasaan
teknologi pengolahan seperti pembuatan Nekara dan teknologi hidraulik, seperti
empelan, uwungan dan sebagainya.
Kata dia, legacy penting ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai
pariwisata Bali.
Jika kita mampu menjaga ekologi, sumber-sumber mata air,
sungai dan danau yang ratusan tahun telah menjadi bagian penting dari
peradaban Bali, melakukan konservasi peninggalan sejarah Bali Kuna.
Juga,mengangkat story dan values yang hidup didalamnya, maka pariwisata Bali
akan memiliki jiwa (soul) yang sangat bernilai.
“Saatnya pariwisata juga diperkuat dari sisi edukasi sejarah dan konservasi,
baik melalui perhormatan pada peninggalan peradaban masa lalu maupun
penghargaan pada alam-lingkungan (ekologi),” demikian Ari yang alumnus
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. (rhm)

