Yogyakarta – Kementerian Kesehatan RI melaporkan adanya 23 kasus positif Hantavirus di sembilan provinsi, termasuk DIY.
Menyikapi hal ini, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menjaga kebersihan lingkungan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menjelaskan pihaknya masih menunggu konfirmasi resmi dari Kemenkes terkait detail kasus terbaru.
Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada laporan baru di tahun 2026.
“Pernah ada satu kasus tahun lalu, tapi untuk tahun ini belum ada laporan,” ujarnya, Jumat (8/5).
Pengawasan terhadap penyakit yang ditularkan tikus ini dilakukan melalui fasilitas kesehatan sentinel, dengan RSUP Dr. Sardjito sebagai rujukan utama pemeriksaan laboratorium.
Lana menambahkan, penanganan medis terhadap Hantavirus serupa dengan Leptospirosis dan dapat diobati secara intensif. “Intinya tidak perlu panik, masih bisa ditangani,” katanya.
Ia juga menekankan, tidak diperlukan vaksinasi khusus seperti COVID-19. Fokus utama pencegahan adalah menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus.
Sementara itu, laporan internasional menyebut dugaan awal paparan Hantavirus muncul dari perjalanan kapal ekspedisi MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026.
Kapal dengan 150 penumpang itu sempat singgah di wilayah satwa liar terpencil. Beberapa hari kemudian, sejumlah penumpang mengalami gejala mirip flu, meski saat itu belum dicurigai sebagai Hantavirus.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau tetap waspada namun tidak panik, serta menjadikan kebersihan lingkungan sebagai langkah utama pencegahan.***

