Prof Dwikorita: DIY Siap Hadapi Potensi Gempa Megathrust

Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof Dwikorita Karnawati, menyebut ada sejumlah wilayah di Indonesia yang secara ilmiah seharusnya sudah mengalami gempa besar berdasarkan siklus ratusan tahun.

7 Mei 2026, 06:24 WIB

Yogyakarta-Ancaman gempa megathrust di selatan Jawa kembali menjadi perhatian para ahli kebencanaan. Zona subduksi yang sudah lama “terkunci” dinilai berpotensi memicu gempa besar, meski waktunya belum bisa dipastikan.

Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof Dwikorita Karnawati, menyebut ada sejumlah wilayah di Indonesia yang secara ilmiah seharusnya sudah mengalami gempa besar berdasarkan siklus ratusan tahun.

“Para pakar sepakat ada beberapa lokasi yang seharusnya sudah mengalami gempa megathrust dalam periode ulang 200 tahun, tapi belum terjadi,” ujarnya di Kampus Terpadu UMY, Bantul, Rabu (6/5).

Wilayah yang dimaksud meliputi Mentawai, Pulau Siberut, Selat Sunda bagian selatan, hingga selatan Jawa Tengah termasuk DIY.

Menurutnya, siklus gempa di kawasan tersebut rata-rata 200 tahunan.

“Saat ini kita berada di fase akhir siklus itu. Ini bukan prediksi, melainkan hasil penelitian sebagai dasar mitigasi,” jelasnya.

Dwikorita menegaskan, informasi ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan pengingat agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan.

Ia menilai DIY relatif siap, baik dari sisi infrastruktur maupun kesadaran warga.

Salah satu contohnya adalah Yogyakarta International Airport (YIA) yang dirancang tahan gempa hingga magnitudo 8,7 dan memperhitungkan potensi tsunami lebih dari 10 meter.

Bandara tersebut juga disiapkan sebagai lokasi evakuasi darurat. Area mezzanine dan lantai atas bisa menampung hingga 10.000 orang, dengan crisis center berkapasitas 2.000 orang.

“Ini luar biasa, bahkan di ASEAN mungkin baru Yogyakarta yang menyiapkan bandara sekaligus tempat evakuasi,” ungkap mantan Kepala BMKG itu.

Selain infrastruktur, kesiapsiagaan masyarakat DIY juga dinilai baik. Simulasi kebencanaan rutin dilakukan, sistem peringatan dini dipasang, dan sirine diuji setiap tanggal 26.

Meski begitu, Dwikorita mengingatkan tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan kesiapsiagaan di tengah pergantian generasi dan aparatur.

“Setiap ada generasi baru, harus dilatih lagi. Jangan sampai yang sudah dilatih lulus, tapi yang baru tidak siap,” katanya.

Ia menekankan pentingnya edukasi kebencanaan berkelanjutan, baik di sekolah maupun pemerintahan.

“Bupati bisa berganti, aparat bisa berganti. Tapi kesiapsiagaan harus tetap berjalan dan tidak boleh berhenti,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini