Bangkit Bersama Pertamina, Difel Café Buka Peluang Kerja Luas dan Dongkrak Pendapatan Penyandang Disabilitas

Ahad Rahedi menegaskan pihaknya menerapkan pola pendampingan jangka panjang yang dilakukan secara bertahap dan terstruktur.

30 Oktober 2026, 21:16 WIB

Denpasar– Keterbatasan fisik tidak pernah menjadi halangan bagi penyandang disabilitas untuk terus berkarya dan mandiri secara ekonomi.

Hal inilah yang dibuktikan I Nyoman Juniarta, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Gantari Jaya sekaligus pendiri Difel Café. Melalui program pelatihan vokasi yang didukung penuh oleh Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, KUBE Gantari Jaya berhasil mencetak para difabel yang tangguh dan produktif di bidang kuliner.  

Dalam wawancara khusus pada Jumat, 30 Oktober 2026, pria yang akrab disapa Jigo ini menceritakan perjalanan dan perkembangan program pelatihan yang telah berjalan sejak tahun 2024 lalu. Menurutnya, dukungan dari pihak Pertamina sangat luar biasa dan responsif terhadap setiap program yang diajukan oleh kelompoknya.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi/dok.kabarnusa

“Pertamina sangat sigap. Selama kami memprogramkan kegiatan di sini, Pertamina tidak pernah mengatakan tidak bisa. Paling mereka menyampaikan untuk melihat dan menyesuaikan anggaran terlebih dahulu, dan hasilnya selalu disetujui,” ungkap Nyoman Juniarta kepada Kabarnusa Jumat 30 Oktober 2026.

Program pelatihan yang dijalankan mencakup keahlian pastry (seperti pembuatan croissant danish) hingga pengolahan kopi. Berkat pelatihan ini, para anggota KUBE Gantari Jaya merasakan dampak ekonomi yang sangat signifikan.  

Juniarta mencontohkan rekan sekelompoknya, Widyasoso, yang sebelumnya memiliki keahlian pijat (massage) dari Yayasan Sabahat Netra. Dengan adanya pelatihan pastry dan keterlibatan di Difel Café, ia kini memiliki keahlian tambahan yang membantu kestabilan finansialnya.  

“Pendapatan mereka jadi bertambah. Ini sangat membantu untuk modal usaha, mencukupi kebutuhan sehari-hari, membayar kos, hingga listrik,” jelasnya.  

Bagi Juniarta, memperluas keterampilan para penyandang disabilitas adalah kunci agar mereka tidak hanya bergantung pada belas kasihan orang lain, melainkan mampu menunjukkan kemampuan nyata kepada publik.

Tidak hanya berhenti pada pelatihan pastry, KUBE Gantari Jaya juga merambah dunia kopi. Berawal dari kunjungan pelatihan ke petani kopi di Pupuan, Tabanan, mereka mempelajari proses panjang mulai dari pemetikan hingga pengolahan.

Mengingat proses roasting mandiri membutuhkan ruang dan peralatan besar yang kompleks, mereka akhirnya memilih fokus pada proses house blend (pencampuran biji kopi matang) hingga pengemasan bubuk kopi siap seduh.  

Produk kopi murni tanpa campuran buatan KUBE Gantari Jaya kini dikemas dalam ukuran 100 gram dengan desain kemasan menarik hasil karya sendiri, dan dibanderol seharga Rp50.000.  

“Ke depan, kami tentu berharap bisa memperluas pemasaran produk ini ke luar daerah, mengurus izin edar, serta mendapatkan sertifikasi halal,” tambah Juniarta.  

Ia juga membuka peluang kerja sama yang luas bagi pihak hotel, restoran, maupun kafe yang membutuhkan tenaga kerja profesional dari kalangan difabel, sekaligus wadah bagi para anggota untuk terus menimba pengalaman kerja yang lebih luas.

Komitmen PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus dalam menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang inklusif terus menunjukkan hasil nyata. Melalui sinergi bersama Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Gantari Jaya, Pertamina menginisiasi program pelatihan barista dan pastry bakery bagi para penyandang disabilitas di Denpasar, yang kini berkembang menjadi unit usaha mandiri berdaya saing tinggi.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa kolaborasi ini bermula dari kegiatan assessment yang dilakukan oleh Fuel Terminal Sanggaran bersama Dinas Sosial Kota Denpasar. Langkah ini diambil untuk memetakan potensi, kebutuhan, serta peluang pemberdayaan bagi kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas.

“Dari hasil assessment tersebut, kami melihat KUBE Gantari Jaya sebagai wadah yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan dan kemandirian ekonomi para difapreneur,” ujar Ahad Rahedi dalam keterangannya, Sabtu (31/10).

Ia menambahkan, pemilihan bidang kopi dan barista didasarkan pada relevansinya dengan tren bisnis serta kebutuhan pasar saat ini yang cukup tinggi. Melalui inisiatif ini, Pertamina tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga membangun ekosistem bisnis inklusi melalui Difel Café agar para penyandang disabilitas dapat bekerja, berwirausaha, dan memiliki penghasilan mandiri.

Bagi Pertamina, pemberdayaan masyarakat tidak hanya kegiatan seremonial penyaluran bantuan atau pelatihan sesaat. Ahad Rahedi menegaskan pihaknya menerapkan pola pendampingan jangka panjang yang dilakukan secara bertahap dan terstruktur.

“Pendampingan Difel Café dilakukan mulai dari peningkatan keterampilan sumber daya manusia, penguatan manajemen usaha, penyediaan sarana dan prasarana pendukung, hingga pengembangan produk dan akses promosi,” paparnya.

Ke depan, Pertamina juga fokus memperkuat kapasitas kelembagaan serta mencetak local trainer (pelatih lokal) dari kalangan alumni pelatihan. Dengan cara ini, keterampilan yang telah diperoleh dapat ditransfer secara berkesinambungan kepada kelompok penyandang disabilitas lainnya sehingga program dapat direplikasi secara mandiri.

Keberhasilan para alumni pelatihan Difel Café yang kini tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu terserap di dunia kerja formal dan menjadi pelatih, dinilai Ahad Rahedi sebagai pencapaian paling bermakna.

“Kami sangat mengapresiasi para alumni yang saat ini telah mampu bekerja di sektor perhotelan dan kuliner, mengembangkan usaha secara mandiri, bahkan menjadi pelatih bagi sesama penyandang disabilitas,” ungkapnya.

Menurutnya, hal tersebut mematahkan stigma sekaligus membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki kompetensi tinggi. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, melainkan pelaku usaha, tenaga kerja profesional, hingga penggerak komunitas.

“Inilah esensi dari bisnis inklusi, yakni menciptakan ruang dan kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk berkembang,” imbuh Ahad Rahedi.

Melihat kesuksesan model bisnis inklusi di Denpasar, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus membuka peluang strategis untuk memperluas program serupa ke wilayah Bali dan Nusa Tenggara lainnya.

Pengembangan Difel Café akan dijadikan rujukan model pemberdayaan yang adaptif terhadap potensi lokal. Melalui penguatan local trainer dan sinergi lintas sektor—melibatkan pemerintah, komunitas, serta pemangku kepentingan—Pertamina optimistis dampak pemberdayaan ini akan menjangkau lebih banyak penyandang disabilitas di masa mendatang.***

Berita Lainnya

Terkini