Bubur Suro: Cerita di Balik Semangkuk Kehangatan dan Nilai Kehidupan

Bubur Suro merupakan perpaduan cerdas antara syariat Islam dan kearifan lokal.

30 Juni 2026, 23:26 WIB

Buleleng  – Jika Anda tinggal di lingkungan masyarakat Jawa, bulan Muharam atau bulan Suro biasanya selalu ditandai dengan aroma khas yang menguar dari dapur-dapur warga: aroma Bubur Suro.

Namun, apakah Anda tahu di balik rasanya yang gurih dan kaya rempah, hidangan ini menyimpan filosofi mendalam tentang kemanusiaan?

Lewa Karma, seorang pengamat pendidikan sosial keagamaan, mengajak kita melihat tradisi ini dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, Bubur Suro bukan hanya ritual musiman, melainkan sebuah “buku sejarah” yang bisa dimakan.

“Tradisi ini adalah cara para pendahulu kita menyampaikan ajaran agama dan sejarah secara menyenangkan,” ujar Lewa Karma.

Ia menjelaskan,  Bubur Suro merupakan perpaduan cerdas antara syariat Islam dan kearifan lokal.

Salah satu kisah yang paling populer adalah kaitannya dengan Nabi Nuh AS. Alkisah, setelah banjir besar surut, para pengikut Nabi Nuh mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang ada—beras, jagung, kacang, hingga umbi-umbian—lalu memasaknya menjadi satu hidangan untuk disyukuri bersama.

Kisah ini kemudian ‘dibumikan’ di Nusantara melalui tangan dingin Sultan Agung Mataram.

“Beliau berhasil menyelaraskan kalender Hijriah dengan budaya lokal, membuat ajaran Islam lebih mudah diterima tanpa harus membuang identitas budaya kita,” tambah Lewa.

Di era yang serba cepat dan cenderung individualis ini, Lewa Karma menilai bahwa tradisi seperti Bubur Suro memiliki peran yang semakin krusial. Ia menyebut setidaknya ada empat “vitamin sosial” yang terkandung dalam tradisi ini:

Gotong Royong: Proses memasak yang dikerjakan bersama-sama adalah obat bagi pudarnya interaksi sosial.

Filosofi Keberagaman: Campuran berbagai bahan dalam satu bubur melambangkan masyarakat kita yang majemuk, namun bisa bersatu dalam satu wadah bernama Indonesia.

Sedekah yang Humanis: Tradisi berbagi bubur kepada tetangga dan kaum dhuafa adalah praktik nyata ajaran Islam tentang kepedulian sosial.

Refleksi Diri: Ini adalah momen untuk bersyukur atas keselamatan dan kesehatan yang kita miliki.

Menurut Lewa, di tengah ramainya polarisasi dan kebisingan di media sosial, tradisi seperti Bubur Suro justru menjadi penawar.

Ia mengajarkan kita untuk kembali melambat, bertemu langsung dengan tetangga, berbagi makanan, dan mendengarkan kisah-kisah baik.

“Melestarikan Bubur Suro bukan berarti kita hidup di masa lalu. Ini justru cara kita membawa nilai-nilai luhur masa lalu untuk menjawab tantangan masa kini. Menjadi religius tidak harus kaku, dan bisa dilakukan dengan cara yang memanusiakan manusia,” tutupnya. ***

Berita Lainnya

Terkini