Buleleng – Fenomena mengejutkan terjadi di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Sebanyak 60 ribu calon mahasiswa tercatat gagal melakukan daftar ulang tahun ini.
Angka yang fantastis ini menjadi sorotan serius bagi para pemerhati pendidikan karena dinilai dapat mengancam kualitas sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.
Lewa Karma, seorang pengamat pendidikan yang juga Kasi Pendidikan Islam Kantor Kemenag Buleleng, menyebut fenomena ini sebagai ironi yang menyedihkan.
Menurutnya, masalah ini bukan sekadar urusan administrasi kampus yang terabaikan.
Ini sinyal darurat. Kita bicara tentang puluhan ribu anak bangsa yang kehilangan kesempatan emas untuk mengenyam pendidikan tinggi.
“Jika dibiarkan, ini akan menambah panjang daftar 289 ribu mahasiswa yang sudah lebih dulu putus kuliah per tahun 2025,” ujar Lewa saat dihubungi, Rabu (24/6/2026).
Lewa membedah ada lima penyebab utama di balik tingginya angka batal daftar ulang ini. Faktor ekonomi tetap menjadi musuh utama
Banyak keluarga kelas menengah bawah berada di “zona abu-abu”; mereka tidak masuk kriteria penerima bantuan, namun tetap kesulitan melunasi biaya kuliah yang terus meningkat.
Selain itu, Lewa mencatat adanya pergeseran persepsi di kalangan generasi muda.
Banyak lulusan SMA yang mulai meragukan relevansi kuliah. Mereka melihat banyak sarjana yang masih menganggur atau bekerja tidak sesuai bidang.
Akibatnya, menjadi content creator atau merintis usaha digital dianggap lebih menjanjikan daripada kuliah selama empat tahun,” jelasnya.
Menghadapi situasi ini, Lewa mendorong pemerintah dan perguruan tinggi tidak tinggal diam.
Ia mengusulkan pendekatan yang lebih “humanis” dan fleksibel agar akses pendidikan tetap terbuka bagi semua kalangan.
Beberapa langkah strategis yang ia tawarkan di antaranya:
Skema beasiswa harus menjangkau kelompok rentan yang tidak tercover bantuan pemerintah saat ini.
Kampus disarankan menyediakan sistem kuliah hybrid, kelas malam, atau akhir pekan bagi mereka yang harus bekerja sambil kuliah.
Perguruan tinggi wajib memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri melalui program magang dan sertifikasi.
Kampus perlu proaktif mendekati calon mahasiswa yang ragu-ragu untuk memberikan pendampingan sebelum mereka benar-benar mundur.
Lewa menegaskan, pendidikan tinggi jangan hanya dipandang sebagai mesin pencetak pekerja, melainkan sebagai investasi peradaban.
“Kita perlu membangun kesadaran kolektif bahwa kuliah adalah investasi sosial. Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, Indonesia berisiko kehilangan potensi emas generasi mudanya sendiri,” pungkasnya. ***

