Tanpa Bimbel, Remaja Gunungkidul Ini Berhasil Masuk UGM lewat Jalur Prestasi

Leni Ismawati, putri pasangan buruh tani ini sukses diterima sebagai mahasiswi baru program studi Akuntansi di Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur SNBP.

30 Juni 2026, 15:45 WIB

Gunungkidul – Keterbatasan ekonomi ternyata bukan penghalang untuk meraih mimpi setinggi langit. Leni Ismawati (18), remaja asal Gunungkidul, baru saja membuktikan pendidikan tinggi adalah hak bagi siapa saja yang mau berjuang keras.

Putri dari pasangan buruh tani ini sukses diterima sebagai mahasiswi baru program studi Akuntansi di Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur SNBP.

Keberhasilannya semakin manis karena Leni berhasil mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul, yang membebaskannya dari biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100 persen.

Bagi kedua orang tuanya, Semojo (50) dan Erni (37), keberhasilan Leni adalah jawaban atas doa dan kerja keras mereka.

Sebagai keluarga yang hidup dari menggarap sawah dan beternak, sang ibu selalu menanamkan pesan mendalam kepada Leni.

“Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah, bagaimanapun caranya. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya yang hanya lulusan SMP dan SD,” ungkap Erni dengan penuh haru, Selasa (30/6/2026).

Perjalanan Leni menuju kampus impian tidaklah mudah. Selama menempuh pendidikan di SMA 1 Wonosari, ia harus hidup mandiri di rumah kos karena jarak yang jauh.

Tanpa mengikuti bimbingan belajar (bimbel) seperti teman-temannya, Leni punya strategi unik: ia terbiasa bangun pukul 02.00 dini hari untuk belajar dan mengulang materi pelajaran.

Kegigihan tersebut membawanya menjadi siswa berprestasi dengan peringkat kedua di sekolahnya.

Tak hanya akademis, Leni juga aktif berorganisasi di Rohis, PMR, hingga Ikatan Pemuda Muhammadiyah, serta sempat menantang diri di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi tingkat kabupaten.

Bagi Leni, kuliah bukan tentang mengejar nilai atau gelar. Ia melihat pendidikan sebagai ‘tiket emas’ untuk memperbaiki taraf hidup keluarga dan memutus rantai keterbatasan ekonomi yang selama ini membelenggu orang tuanya.

“Semakin bertambah usia, pemikiran saya semakin terbuka. Awalnya saya belajar untuk peringkat, kini saya belajar untuk mengubah kehidupan keluarga dan latar belakang pendidikan saya,” tutup Leni.***

Berita Lainnya

Terkini