APTIK Serukan Pentingnya Merawat Demokrasi dan Menjaga Harapan Bangsa

APTIK menyoroti meski Indonesia telah banyak meraih kemajuan, bangsa ini kini menghadapi tantangan baru, mulai dari isu ekonomi global hingga perkembangan teknologi digital yang cepat.

30 Juni 2026, 20:21 WIB

Yogyakarta– Di tengah dinamika sosial dan politik yang kian kompleks, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) mengeluarkan pernyataan moral bertajuk “Merawat Demokrasi, Meneguhkan Keadilan, Memelihara Harapan”.

Dalam pernyataan yang dirilis di Yogyakarta pada 29 Juni 2026 ini, para pimpinan perguruan tinggi Katolik menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan agar tetap kokoh.

APTIK menyoroti meski Indonesia telah banyak meraih kemajuan, bangsa ini kini menghadapi tantangan baru, mulai dari isu ekonomi global hingga perkembangan teknologi digital yang cepat.

Oleh karena itu, dunia akademik dipanggil untuk hadir tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai penjaga nurani bangsa.

Dalam pernyataan tersebut, APTIK menyoroti tujuh poin penting yang perlu menjadi perhatian bersama agar demokrasi di Indonesia tetap sehat:

Kebebasan Sipil:Ruang untuk berpendapat, kebebasan akademik, dan kebebasan pers harus dilindungi. Kritik yang bertanggung jawab adalah bagian penting dalam membangun negara.

Penyelenggaraan Negara: Jabatan publik harus diisi oleh sosok berintegritas dan kompeten, bukan sekadar kepentingan kelompok atau elit. Kebijakan harus selalu berpihak pada kesejahteraan rakyat, terutama mereka yang rentan.

Institusi yang Kuat: Lembaga negara perlu bekerja sesuai konstitusi dan saling mengawasi agar tata kelola pemerintahan tetap transparan dan akuntabel.

Supremasi Sipil: aperan institusi keamanan harus tetap dalam koridor hukum dan profesional, dengan batas yang jelas antara otoritas sipil dan militer.

Tantangan Digital: Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), harus dibarengi dengan etika agar tidak memicu polarisasi atau penyebaran disinformasi.

Kepemimpinan Berintegritas: Indonesia membutuhkan pemimpin yang memberikan keteladanan, rendah hati, dan berani mendengarkan aspirasi rakyat.

Pertumbuhan ekonomi wajib dibarengi dengan keadilan sosial dan perlindungan bagi kelompok yang kurang beruntung.

APTIK menegaskan, perguruan tinggi bukan sekadar pabrik lulusan, melainkan ruang pembentukan karakter dan kebijaksanaan.

Mereka berkomitmen untuk terus menjaga kebebasan akademik agar dunia kampus tetap independen, berpikir kritis, dan mampu menjadi kompas moral di tengah berbagai tekanan.

“Indonesia tidak membutuhkan semakin banyak ketakutan, melainkan semakin banyak kepercayaan. Indonesia tidak membutuhkan polarisasi, melainkan dialog,” tulis pernyataan tersebut.

Sebagai penutup, APTIK mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari penyelenggara negara, aparat penegak hukum, media, hingga kaum muda—untuk bersatu memperbarui komitmen dalam menjaga demokrasi.

Khusus bagi generasi muda, APTIK berpesan agar mereka tidak kehilangan harapan dan terus aktif berkontribusi bagi masa depan bangsa dengan semangat pelayanan.

Pernyataan ini ditandatangani oleh pimpinan dari puluhan perguruan tinggi Katolik di seluruh Indonesia, menegaskan tekad kolektif untuk terus mendidik generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral demi kebaikan bersama. ***

Berita Lainnya

Terkini