Dari Desa Terendam Jadi Model Nasional, Banjarsari Akselerasi Pemberdayaan Mangrove hingga Inovasi Energi

Kehadiran program DMPM dinilai menjadi pemicu utama dalam meningkatkan kepedulian serta partisipasi aktif warga terhadap pemulihan ekosistem kawasan pesisir Desa Banjarsari.

11 Oktober 2026, 05:24 WIB

Demak – Desa Banjarsari di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang selama ini menghadapi tantangan abrasi dan tercatat memiliki indeks desa terendam tertinggi di tingkat kabupaten, kini berhasil bertransformasi menjadi role model nasional dalam pemberdayaan masyarakat peduli mangrove.

Capaian serta potensi pengembangan wilayah pesisir tersebut dipaparkan dalam gelaran Sosialisasi Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) yang berlangsung di Balai Desa Banjarsari pada Jumat (9/10/2026).

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, meliputi Tim DMPM Kementerian Lingkungan Hidup Jakarta, Pusda Jawa, akademisi dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, kelompok masyarakat Gerdadu Peduli Lingkungan Demak, serta warga pesisir setempat.

Camat Sayung, Sri Puji Astutik, SKM., M.Kes., secara resmi membuka acara sekaligus menggarisbawahi krusialnya upaya pelestarian ekosistem pesisir.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa konservasi mangrove di wilayah Kecamatan Sayung memegang peranan strategis sebagai benteng alami dalam meredam dampak perubahan iklim dan abrasi.

Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus bergotong royong menjaga lingkungan agar tantangan ekologis yang ada dapat diubah menjadi peluang keberlanjutan.

“Konservasi mangrove bukan hanya soal menanam, tapi soal menyelamatkan masa depan Sayung. Saya berharap warga masyarakat bahu-membahu dalam penyelamatan lingkungan dengan semangat menjadikan musibah ini menjadi berkah dan tangguh,” tegas Sri Puji Astutik.

Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh perwakilan Tim DMPM Kementerian Lingkungan Hidup, Pandji Dimas. Menurutnya, kolaborasi yang solid antara Pemerintah Desa Banjarsari dan kelompok Gerdadu Peduli Lingkungan Demak telah membuktikan keterlibatan aktif masyarakat mampu menciptakan model tata kelola lingkungan yang efektif dan berkelanjutan.

“Kami sangat mengapresiasi Desa Banjarsari dan kelompok Gerdadu Peduli Lingkungan Demak. Desa ini sudah menjadi role model pemberdayaan masyarakat peduli mangrove berbasis masyarakat yang patut direplikasi di desa pesisir lain di Indonesia,” ujar Pandji Dimas.

Merespons dukungan tersebut, Kepala Desa Banjarsari, Haryanto, menyampaikan rasa terima kasih atas pendampingan dari pemerintah pusat.

Kehadiran program DMPM dinilai menjadi pemicu utama dalam meningkatkan kepedulian serta partisipasi aktif warga terhadap pemulihan ekosistem kawasan pesisir Desa Banjarsari.

“Terima kasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup atas program DMPM ini sehingga mampu menjadi pengungkit masyarakat kami peduli lingkungan dengan konservasi mangrove untuk menyelamatkan Bumi Banjarsari,” ungkap Haryanto.

Di samping pemulihan ekosistem mangrove, Desa Banjarsari terus menggalakkan sejumlah inovasi berbasis kemandirian.

Wilayah ini mulai menerapkan konsep Desa Mandiri Energi melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) berupa panel surya, program pengolahan air asin menjadi air siap minum (desalinasi), serta pengembangan budidaya perikanan ramah lingkungan.

Rangkaian inovasi ekologis tersebut menarik perhatian Dinas Pariwisata Kabupaten Demak untuk mendorong Banjarsari berkembang menjadi destinasi Desa Wisata Pesisir Tangguh Iklim.

Perwakilan bagian promosi Dinas Pariwisata Demak, Shofa, menilai resiliensi masyarakat Banjarsari menjadi nilai tambah yang sangat potensial bagi sektor pariwisata daerah.

“Desa Banjarsari ini semakin menarik. Meski menjadi desa tertinggal dengan indeks terendam tertinggi, terus bergerak dengan segala inovasinya. Dari desa mandiri energi, program desalinasi, ini menjadi daya tarik untuk terus dikembangkan menjadi desa wisata,” jelas Shofa.

Sinergi berkelanjutan antara pemerintah pusat, akademisi, pemerintah daerah, komunitas lokal, dan masyarakat pesisir ini membuktikan bahwa wilayah yang terdampak parah oleh perubahan iklim dapat bangkit menjadi kawasan yang tangguh, mandiri, dan inspiratif bagi daerah lainnya.***

 

Berita Lainnya

Terkini