Hasil Penelitian Unud Ungkap Tantangan Utama Penanganan Tuberkulosis pada Pekerja Migran

Hasil evaluasi sistem menunjukkan pelaksanaan komponen skrining dasar TB—seperti alur wawancara gejala dan pemeriksaan foto toraks—pada PMI pra-keberangkatan relatif baik. Tingkat pelaksanaan pemeriksaan foto toraks bahkan mencapai 92 persen

12 Oktober 2026, 10:46 WIB

Badung – Hasil penelitian mengenai penanganan Tuberkulosis (TB) pada Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengungkap sejumlah temuan penting terkait efektivitas skrining, hambatan stigma, hingga kebutuhan integrasi layanan kesehatan berbasis digital.

Riset bertajuk “Peningkatan Kaskade Tuberkulosis pada Pekerja Migran Indonesia: Skrining, Penilaian Epidemiologis, dan Pengembangan Model Layanan Kesehatan Digital” tersebut dipaparkan oleh Peneliti Utama, Prof. dr. I Made Ady Wirawan, M.P.H., Ph.D., dalam acara monitoring dan evaluasi kemajuan penelitian di LPPM Universitas Udayana, Denpasar, Senin (12/10/2026).

Didepan tim reviewer Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapto MSc., dan Prof. Dr. Dra. Wiwik Susana Rita, MSi., Ketua Tim Peneliti Prof Ady Wirawan membeber poin-poin utama hasil penelitian yang berhasil dipetakan oleh tim peneliti.

Peneliti Utama, Prof. dr. I Made Ady Wirawan, M.P.H., Ph.D dan tim peneliti Unud memaparkan hasil penelitiannya di LPPM Unud Jimbaran Badung , Senin (12/10/2026)/dok,kabarnusa

Kepatuhan Skrining Dasar Baik, Namun Rujukan Masih Terputus

Hasil evaluasi sistem menunjukkan pelaksanaan komponen skrining dasar TB—seperti alur wawancara gejala dan pemeriksaan foto toraks—pada PMI pra-keberangkatan relatif baik. Tingkat pelaksanaan pemeriksaan foto toraks bahkan mencapai 92 persen.  

Meski demikian, kepatuhan alur layanan secara menyeluruh (end-to-end) belum optimal. Celah (gap) utama ditemukan pada konsistensi anamnesis serta penelusuran tindak lanjut rujukan ketika PMI berpindah fasilitas kesehatan, wilayah, maupun saat kembali ke Indonesia. 

Dari sisi aksesibilitas, studi mencatat lebih dari separuh pekerja migran dilaporkan belum pernah mengikuti skrining TB secara berkala.

Alokasi waktu layanan yang kurang fleksibel serta kendala biaya menjadi dua faktor utama yang paling sering dikeluhkan oleh PMI.  

Penerimaan Pengobatan Pencegahan Tinggi, Namun Pemahaman Rendah

Studi perilaku (Knowledge, Attitude, and Practice) mengenai Tuberculosis Preventive Treatment (TPT) atau Pengobatan Pencegahan Tuberkulosis menunjukkan tingkat penerimaan program yang relatif baik di kalangan PMI.  

Namun, tingkat pemahaman dan persepsi risiko PMI terhadap penyakit TB masih tergolong rendah. Lebih dari 50 persen responden merasa memiliki risiko rendah tertular, dan efikasi diri pekerja migran untuk menyelesaikan pengobatan pencegahan baru mencapai sekitar 47 persen.

Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan secara masif dan berkelanjutan.  

Stigma dan Kekhawatiran Kehilangan Pekerjaan

Penelitian kualitatif mengungkap rasa takut akan kerahasiaan data medis dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan menjadi hambatan psikologis utama PMI dalam mencari pelayanan kesehatan.

“Stigma negatif terhadap penderita TB membuat PMI cenderung menutupi gejala atau enggan melanjutkan terapi,” tandas Prof Ady Wirawan.

Solusi Digital: Pengembangan Prototipe Migrant Health System

Menjawab berbagai tantangan tersebut, tim peneliti berhasil merancang prototipe Migrant Health System.

Platform digital ini mengadopsi sistem rujukan tertutup (close-loop referral system), pembaruan data domisili kontak, serta pertukaran data medis minimum berbasis peran yang menjaga kerahasiaan pasien.  

“Sistem digital yang kami kembangkan ini dirancang untuk memastikan kesinambungan pemantauan medis (continuity of care) pasien PMI, baik saat mereka berada di daerah asal, bekerja di luar negeri, hingga kembali ke tanah air, tanpa membebani fasilitas kesehatan yang ada,” imbuh  Prof. Ady Wirawan.***

Berita Lainnya

Terkini