Level PPKM Turun, BI Ungkap Perekonomian Bali Tumbuh Dua Digit

27 September 2021, 07:28 WIB
IMG 20210927 WA0019
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho/Dok. BI Bali

Denpasar – Seiring penurunan level Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM perekonomian di Bali pada triwulan II 2021 mulai menunjukkan pemulihan dan tumbuh sebesar
2,83% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho menyampaikan, itu pada webinar dengan topik “Adaptasi Bisnis di Tengah Penurunan Pariwisata”, Kamis 23 September 2021. 

Di samping itu, transaksi digital di Bali terus mengalami kenaikan yaitu
Rp30 miliar per bulan dengan jumlah transaksi sebanyak 376 ribu.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengedukasi dan memotivasi pelaku usaha sehingga bisa beradaptasi di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini. 

Untuk itu, Trisno meminta pelaku usaha dituntut mampu beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi. 

Salah satu cara beradaptasi dengan mengadopsi digitalisasi, mulai dari aspek produksi, pemasaran, pembayaran, hingga pembiayaan. 

Bank Indonesia mendorong proses transformasi digital melalui sistem pembayaran menggunakan QRIS yang memungkinkan pelaku usaha untuk masuk ke dalam ekosistem digital. 

Mereka dapat melakukan transaksi tanpa tatap muka sehingga pembayaran bisa berlangsung cepat, mudah, murah, aman, dan handal. 

Hingga kini jumlah pelaku usaha yang telah terhubung dengan QRIS sudah mencapai lebih dari 10 juta merchant di Indonesia, sementara di Bali berjumlah lebih dari 310.266 merchant.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengapresiasi berbagai usaha Bank Indonesia yang secara kontinu mendukung pelaku usaha untuk terus berinovasi dan memotivasi perubahan pola pikir, sikap dan perilaku dari pelaku usaha. 

Kata Wagub Cok Ace selain mendukung pemulihan ekonomi, pemanfaatan teknologi digital juga dapat meningkatkan daya saing pelaku usaha. 

Pelaku usaha yang tidak memanfaatkan teknologi digital di era globalisasi ini akan tertinggal karena digitalisasi adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. 

Webinar kali ini, tepat untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi pelaku usaha untuk mulai memanfaatkan teknologi digital.

Sejumlah pelaku usaha, digitalprenuer, dan perbankan juga menjadi narasumber yakni Founder Sehat Segar Herbal Drink, Hermien Sri Rejeki dan Co-Founder Bakmi Sundoro, Bintari Saptanti yang memberikan pengalaman dan wawasan agar produk yang dijual dapat menembus pasar international. 

Pemilik Krisna Oleh-oleh Bali, Ajik Krisna menjelaskan cara pelaku bisnis untuk tetap bertahan dan berinovasi di masa pandemi. 

Riyeke Usdianto sebagai Digitalprenuer memberikan tips pemasaran melalui media digital dan pola pikir dalam menjalankan usaha. 

Kemudian, Vice President BCA Nathalya Wani Sabu menyampaikan berbagai risiko dan modus kejahatan transaksi digital termasuk cara menanggulangi. (rhm)

Berita Lainnya

Terkini