Tetap Crispy dan Juicy, Begini Cara Bebek Bengil Bertahan Lebih dari 35 Tahun

Menghadapi perubahan pasar Bebek Bengil, legenda kuliner di Ubud kini mulai "bersolek" untuk menarik perhatian segmen lokal.

22 April 2026, 16:56 WIB

Gianyar -Berdiri kokoh selama lebih dari 35 tahun di jantung Ubud, Bebek Bengil bukan sekadar restoran; ia adalah legenda hidup kuliner Bali. Namun, setua apa pun sebuah pohon, ia harus tetap lentur mengikuti arah angin.

Dalam sebuah obrolan hangat di Ubud (22/4), Anak Agung Gde Agung Diva Suputra, perwakilan owner Bebek Bengil, berbagi kisah tentang dinamika bisnis mereka saat ini.

Tahun ini memberikan tantangan yang cukup terasa.Jika tahun lalu turis asal Eropa dan Barat masih mendominasi meja-meja di sini, tahun ini terjadi pergeseran yang signifikan—penurunan kunjungan dari segmen tersebut mencapai di atas 50%.

Menyikapi hal ini, Bebek Bengil mulai melirik “saudara sendiri”: segmen lokal. Selama ini, Bebek Bengil mungkin identik dengan kesan eksklusif bagi turis mancanegara.

Untuk menghapus sekat tersebut, Agung Diva menyiapkan strategi paket hemat.

“Kami mencoba masuk ke segmen lokal melalui sistem paket, terutama untuk grup. Ada penyesuaian harga atau diskon sekitar 10% hingga 15% agar lebih terjangkau bagi lidah dan kantong nusantara,” jelasnya.

Tak hanya soal harga, jangkauan pun diperluas. Saat ini, Bebek Bengil memiliki 7 outlet (3 di Bali dan 4 di Jakarta). Kolaborasi dengan agen perjalanan dari kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, dan Jakarta terus diperkuat untuk mengisi kapasitas restoran di Ubud yang mampu menampung hingga 450 orang.

Mendengarkan konsumen adalah kunci. Menanggapi masukan pengunjung yang menginginkan variasi selain bebek, bulan depan Bebek Bengil siap meluncurkan menu ikan sebagai alternatif.

Mulai dari Snapper Grill hingga olahan gaya Western akan hadir memperkaya pilihan.

“Kami ingin mengembalikan menu-menu lama yang dulu sempat jadi favorit, sembari menambah variasi baru agar tamu punya banyak pilihan,” tambah Agung Diva.

Meski begitu, sang primadona tetap tak tergantikan: Bebek Goreng yang crispy di luar namun tetap juicy di dalam.

Ada cerita manis di balik namanya yang unik. Dulu, tempat ini hanyalah warung kecil tempat berkumpulnya kawan-kawan almarhum pendirinya.

Saat sedang mencari nama, tiba-tiba segerombolan bebek kotor (bengil) masuk ke dalam warung dan meninggalkan jejak kaki di lantai. Momen spontan itulah yang akhirnya diabadikan menjadi nama besar yang kita kenal sekarang.

Meski kondisi pasar sedang fluktuatif, Bebek Bengil tetap menjaga komitmennya terhadap keluarga besar mereka. Di outlet Ubud saja, terdapat sekitar 90 karyawan yang tetap dipertahankan.

Bagi mereka, ketangguhan bisnis bukan hanya soal angka, tapi tentang menjaga warisan rasa dan kesejahteraan orang-orang di baliknya.

Bebek Bengil tetaplah Bebek Bengil—tempat di mana sejarah, pemandangan sawah Ubud, dan kelezatan bebek yang crispy & juicy bertemu dalam satu meja. ***

Berita Lainnya

Terkini