Yogyakarta – Anggapan bahwa pola makan sehat identik dengan biaya mahal ternyata tidak sepenuhnya benar. Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Food Policy menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya mampu membeli makanan sehat, namun lebih sering tergoda oleh makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak.
Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi kesehatan publik. Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD, Kepala Instalasi Gizi RSA UGM, menegaskan pilihan makanan tidak hanya ditentukan oleh isi dompet, melainkan juga preferensi rasa dan kebiasaan sejak kecil.
Lingkungan keluarga, menurutnya, adalah “ruang kelas” pertama bagi lidah seseorang. Anak yang terbiasa dengan makanan manis dan berlemak akan sulit menerima sayur dan buah saat dewasa.
Selain faktor kebiasaan, gaya hidup serba instan di perkotaan turut memperburuk keadaan.
Membeli makanan jadi dianggap lebih praktis, padahal pilihan yang tersedia sering kali berupa gorengan atau makanan rendah serat. Bahkan, tekstur makanan alami seperti buah dan sayur juga menjadi alasan sebagian orang enggan mengonsumsinya.
Dampak dari pola makan yang kurang sehat ini tidak main-main. Kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, dan dislipidemia kini banyak ditemukan pada usia di bawah 40 tahun.
Untuk mengatasi tren tersebut, Dini menekankan pentingnya edukasi gizi melalui media digital dengan pendekatan visual yang menarik serta melibatkan influencer.
“Namun, edukasi saja tidak cukup,” kata Pratiwi Dinia Sari menegaskan.
Ia menilai regulasi pemerintah dalam bentuk label gizi yang sederhana, misalnya sistem “traffic light food”, dapat membantu masyarakat lebih mudah menentukan pilihan makanan.
Di sisi lain, penguatan edukasi berbasis keluarga dan sekolah tetap menjadi pondasi utama agar pola makan sehat benar-benar bisa menjadi gaya hidup.
Singkatnya, tantangan terbesar bukan pada harga makanan sehat, melainkan pada kebiasaan dan preferensi yang sudah terbentuk.
Perubahan pola makan membutuhkan sinergi antara edukasi, regulasi, dan peran keluarga agar masyarakat lebih akrab dengan makanan alami yang menyehatkan.

