Nusa Dua – Dunia medis kini memasuki era baru dalam memerangi stroke. Tidak lagi mengandalkan prosedur bedah terbuka yang kompleks, penanganan gangguan pembuluh darah di otak kini semakin presisi berkat teknologi Intervensi Neurovaskular berbasis kateter.
Dalam gelaran Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLINC) 2026 yang berlangsung di BICC Nusa Dua, para pakar menyoroti betapa krusialnya peran teknologi ini.
Dr. dr. Kumara Tini, Sp.S (K), FINS, FINA, menjelaskan tantangan terbesar menangani stroke adalah anatomi pembuluh darah otak yang sangat unik.

Kumara Tini, pakar saraf yang juga Co-chair BLINC 2026, juga membagikan data dari RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.
Selama satu dekade terakhir, grafik penderita stroke tidak hanya naik secara kuantitas, tetapi juga mengalami pergeseran usia. Pasien berusia di bawah 40 tahun kini bukan lagi pemandangan langka di ruang perawatan.
Salah satu fokus utama dalam konferensi internasional ini dihadiri 400 lebih partisipan dalam dan luar negeri itu, adalah teknologi intervensi pembuluh darah.
Dr. Kumara menjelaskan, menangani masalah di otak membutuhkan presisi yang luar biasa karena jalurnya yang sangat berkelok-kelok.
“Pembuluh darah otak itu unik, tidak lurus seperti di kaki. Dia berkelok-kelok,” tuturnya.
Untuk mencapai titik pendarahan atau sumbatan yang jauh di dalam otak, dokter menggunakan kateter khusus yang memiliki kemampuan “mendaki”.
Alat ini dirancang sangat fleksibel namun kuat agar bisa bermanuver di dalam “labirin” pembuluh darah tanpa merusak dindingnya.
Kecanggihan material ini juga dibuat sedemikian rupa agar tubuh tidak menolaknya sebagai benda asing yang bisa memicu penggumpalan darah.
Meski teknologi ini tergolong mahal karena kerumitan pembuatannya, efektivitasnya dalam menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan permanen sangatlah besar.
Dokter kini bisa mengakses pembuluh darah otak melalui titik yang paling nyaman bagi pasien, baik itu lewat pangkal paha maupun lengan.
Melalui kemajuan proteksi radiasi dan teknologi alat akses ini, dr. Kumara juga menekankan, peluang untuk sembuh dan kembali produktif kini semakin terbuka lebar bagi siapa saja, termasuk bagi kaum perempuan dan generasi muda yang terdampak.
Kumara menegaskan, meski teknologi medis sudah sedemikian canggih untuk “memperbaiki” kerusakan di dalam otak, pencegahan melalui pola hidup sehat atau lifestyle, tetap menjadi investasi terbaik agar kita tidak perlu bertemu dengan kateter-kateter pintar tersebut di meja operasi. ***

