Puluhan Perempuan Berkebaya Mengayuh Semangat Kartini di Yogyakarta

Pawai puluhan perempuan berbalut kebaya anggun di Yogyakarta sebagai refleksi atas semangat RA Kartini di tengah derasnya arus digitalisasi.

21 April 2026, 19:36 WIB

Yogyakarta – Suasana Yogyakarta jelang Hari Kartini terasa berbeda. Senin, 20 April 2026, puluhan perempuan berbalut kebaya anggun tampak beriringan mengayuh sepeda onthel klasik dari Tugu menuju Titik Nol Kilometer.

Pawai ini bukan sekadar nostalgia, melainkan refleksi atas semangat RA Kartini di tengah derasnya arus digitalisasi.

Paguyuban Onthel Djogjakarta (POJOK) bersama Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (KPB) Yogyakarta menggagas acara tersebut, lengkap dengan iringan Gita Cinta Orkestra.

Ketua POJOK, Towil, menuturkan ide ini lahir dari kegelisahan atas euforia digital yang serba cepat.  Menurutnya, masyarakat perlu ruang untuk kembali menghirup kearifan lokal.

“Kita masih bersepeda, masih menggerakkan gagasan kearifan lokal,” ujarnya.

Rute dari Tugu ke Titik Nol dipilih karena sarat makna filosofis bagi warga Yogyakarta. Towil menekankan bahwa bersepeda di Hari Kartini adalah simbol menjaga kesatuan bangsa sekaligus menghidupkan nilai historis.

Aksi ini pun sudah dilakukan hingga 20 kali sebagai bentuk konsistensi menyambungkan semangat Kartini kepada generasi penerus.

Ketua KPB Yogyakarta, Margareta Tinuk Suhartini, menambahkan Kartini modern harus mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan literasi. Ia menyoroti pentingnya membaca untuk menyaring informasi di tengah maraknya hoaks.

Tinuk juga mengapresiasi anak muda yang kini mulai gemar berkebaya berkat sentuhan kreatif para desainer. “Sekarang anak-anak muda tidak risih lagi untuk berkebaya, karena sudah banyak modifikasi yang membuatnya relevan dengan mode masa kini,” katanya.

Acara semakin hangat dengan pembacaan puisi di kawasan Tugu Jogja. Bait-baitnya menegaskan bahwa kebaya bukanlah belenggu, melainkan simbol keberanian dan kemerdekaan berpikir. Sebuah pengingat bahwa Kartini bukan sekadar nama, melainkan alasan untuk terus merayakan martabat perempuan Indonesia.

Berita Lainnya

Terkini