Sinergi Seni dan Budaya Global dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City

Melalui Art & Bali, Nuanu ingin mengarahkan perhatian internasional yang dimiliki Bali kepada kekuatan seni Indonesia, sekaligus mempererat hubungan antara industri kreatif dan pembangunan

14 September 2026, 10:44 WIB

Tabanan – Nuanu Creative City kembali menjadi pusat perhatian dunia seni internasional melalui penyelenggaraan edisi kedua Art & Bali 2026. Berlangsung di kawasan seluas 44 hektare di Bali, perhelatan akbar ini resmi dibuka hingga 13 September, sementara pameran utamanya berlanjut hingga 29 November 2026.

Mengusung tema besar Bridging Dichotomies, ajang ini mempertemukan 23 galeri serta ruang seni dari dalam dan luar negeri, serta melibatkan lebih dari 300 seniman lintas disiplin.

Penyelenggaraan tahun ini tidak menggunakan gedung konvensi konvensional. Seluruh presentasi galeri, instalasi khusus, hingga pertunjukan seni berpadu secara harmonis dengan lanskap terbuka Nuanu Creative City. Konsep ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman apresiasi seni yang menyatu langsung dengan alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, dalam sambutannya saat pembukaan resmi menyampaikan apresiasi mendalam terhadap potensi industri kreatif nasional. “Indonesia memiliki talenta kreatif yang luar biasa di bidang seni, mode, kriya, dan desain.

Peluang yang kita miliki saat ini adalah membangun hubungan yang lebih kuat antara berbagai praktik tersebut, audiensnya, dan pasar yang lebih luas,” ujar Irene Umar.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, yang menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan dalam ekosistem kreatif.

“Melalui Art & Bali, kami ingin mengarahkan perhatian internasional yang dimiliki Bali kepada kekuatan seni Indonesia, sekaligus mempererat hubungan antara industri kreatif dan pembangunan. Kami percaya pembangunan harus turut merawat, mempromosikan, dan mendukung seni,” ungkap Lev Kroll.

Art & Bali 2026 turut memperluas jangkauan globalnya dengan menghadirkan desainer, kurator, kolektor, serta pemimpin budaya dari India, Asia Tenggara, hingga Eropa dan Amerika Serikat.

Founding Director Art & Bali, Kelsang Dolma, menjelaskan edisi kedua ini merupakan kelanjutan dari fondasi kuat yang telah dibangun pada tahun sebelumnya.

“Art & Bali tetap berakar di Bali, sembari membuka ruang yang lebih luas bagi galeri, seniman, dan para kreator dari berbagai tempat untuk bertemu di sini—dan terus membangun pertemuan-pertemuan berikutnya,” tutur Kelsang Dolma.

Salah satu daya tarik utama dalam perhelatan ini adalah pameran bertajuk What The Body Remembers. Dikuratori oleh Bandana Tewari bersama Asisten Kurator Brina Paska, pameran ini mengeksplorasi gagasan bahwa teknik pembuatan karya seni adalah bentuk ingatan fisik.

Pameran ini menampilkan kolaborasi apik dari 26 desainer dan kreator asal India dan Indonesia yang mendalami unsur kain, pewarnaan, tenun, serta gestur tangan.

Rangkaian acara ini juga diramaikan oleh Nuanu Future Talks: Fashion & Art di Labyrinth Dome, yang menghadirkan lebih dari 20 pembicara terkemuka dari berbagai latar belakang industri kreatif global.

Melalui dialog interaktif, pameran seni kontemporer, dan bursa galeri internasional, Art & Bali 2026 berhasil memantapkan posisi Bali sebagai episentrum baru bagi dialog seni, desain, dan kebudayaan dunia.***

Berita Lainnya

Terkini