Tiadakan Ogoh-ogoh, Warga Kediri Gelar “Tektekan Nangluk Merana” Sambut Nyepi

27 Maret 2017, 06:29 WIB
Parade Tektekan Nangluk Merana Desa Pekraman Kediri Tabanan (foto:humas tbn)

TABANAN – Warga Desa Pekraman Kabupaten Tabanan Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi memilih tidak membuat ogoh-ogoh layaknya desa adat lain namun menggantinya dengan tradisi parade “Tektekan Nangluk” yang bertujuan secara niskala mengusir pengaruh roh jahat, bencana hingga penyakit di wilayah mereka.

Parade Tektekan-Nangluk Merana digelar Desa Pekraman Kediri, Sabtu (25/3/17) malam. Sebelumnya, sejak 17 Maret 2017, atraksi budaya ini digelar secara maraton dari malam ke malam di seluruh wilayah desa pekraman. Parade tersebut dibuka resmi Ketua DPRD Kabupaten Tabanan I Ketut Suryadi dan berlanjut pada, Minggu (26/3/17).

Di hari pertama parade, ada tiga banjar yang beratraksi masing-masing Banjar Panti, Banjar Sema, dan Banjar Jagasatru. Sedangkan di hari kedua, parade akan diisi dengan atraksi dari Banjar Delod Puri, Banjar Puseh, Banjar Pande, serta Banjar Tanjung Bungkak.

Atraksi budaya yang keempat kalinya, digelar ini dipadati penonton serta disaksikan juga para Perbekel se-Desa Pekraman Kediri.

Secara singkat Bendesa Adat Desa Pekraman Kediri sekaligus Ketua Panitia Parade Tektekan-Nangluk Merana, Anak Agung Ngurah Gede Panji Wisnu menjelaskan bahwa tradisi Tektekan telah mengakar dan diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Sekalipun sejarahnya tidak tertanggal dan hanya berdasarkan cerita para tetua. Tradisi tektekan di Desa Pekraman Kediri sudah ada sejak lama dan diwarisi secara turun temurun, meskipun secara tertulis sejarah kemunculannya tidak tercatat sama sekali,” tutur Panji.

Meski demikian, secara tersirat dan berdasarkan keterangan para orang tua mereka, tradisi ini muncul bersamaan dari gerubug atau wabah yang terjadi di Kediri. “Konon, saat itu warga banyak mengalami sakit, ada yang meninggal. Sementara hasil tani gagal karena diserang hama,” jelasnya.

Guna mengatasinya, para tokoh masyarakat dan pemangku pada saat itu sepakat untuk memohon petunjuk dengan melakukan persembahyangan di Pura Puseh yang ada di desa pekraman setempat.

Di situlah, para tetua desa adat mendapatkan petunjuk bahwa kondisi gerubug tersebut hanya bisa dihilangkan dengan bunyi-bunyian. Sejak saat itu masyarakat Kediri turun keliling desa untuk melakukan tektekan. Dan, setelah beberapa hari dilaksanakan ada keajaiban segala wabah hilang.

Karena itu, tradisi tektekan di Kediri memiliki fungsi niskala yakni untuk mengatasai nangluk merana. Dan, pelaksanaannya tidak bisa diprediksi karena bergantung pada ada atau tidaknya wabah atau kemalangan di wilayah Desa Pekraman Kediri.

Tidak hanya itu, Tektekan ini juga memiliki fungsi sekala yakni fungsi hiburan dalam bentuk seni tabuh dan seni tari. Karena itu, sejak 2014 lalu kami di Desa Pekraman Kediri sepakat untuk mengadakannya sebagai kegiatan rutin tahunan.

“Khususnya menjelang hari raya Nyepi. Bila di tempat lain, kegiatan Nyepi disambut dengan pembuatan dan parade ogoh-ogoh atau keplug-keplugan, di Kediri kami sepakat meniadakan itu dan menggantinya dengan tektekan,” demikian Panji. (gus)

Berita Lainnya

Terkini