Denpasar – Senja di Denpasar menjadi saksi eratnya hubungan Bali dan Tiongkok. Gubernur Wayan Koster bertemu dengan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, H.E. Zhang Zhisheng, dalam sebuah pertemuan penuh kehangatan yang membicarakan masa depan Bali.
Dari pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), keamanan warga asing, digitalisasi, hingga peluang ekspor buah tropis Bali ke pasar Tiongkok, semua dibahas dengan semangat kolaborasi.
Konjen Zhang tak segan melontarkan pujian atas pesatnya pembangunan Bali di bawah kepemimpinan Koster. Ia mengaku terkesan melihat perubahan nyata dalam dua tahun terakhir.
“Jalan-jalan kini lebih baik, fasilitas berkembang pesat. Saya melihat Bali semakin maju dan aman,” ujarnya penuh optimisme.
Zhang menegaskan dukungan penuh Tiongkok terhadap proyek PSEL Bali. Ia memastikan investor Zhejiang Weiming yang menggarap proyek tersebut berpengalaman dan profesional.
“PSEL bukan hanya solusi sampah, tapi juga jaminan energi bersih bagi Bali,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Zhang menyoroti potensi besar buah Bali di pasar Tiongkok. Manggis dan salak disebutnya sebagai primadona yang selalu dinanti masyarakat Tiongkok.
“Rasanya khas, sangat disukai, bahkan pasokan masih kurang,” katanya.
Kerja sama digital juga menjadi sorotan. Zhang menilai sistem pembayaran lintas negara melalui QRIS akan semakin memudahkan wisatawan Tiongkok bertransaksi di Bali.
Ia bahkan mengundang Koster berkunjung ke Shenzhen, kota teknologi dunia, untuk memperkuat transformasi digital Bali.
Menanggapi hal itu, Koster menegaskan dukungan penuh terhadap penguatan hubungan Indonesia–Tiongkok. Ia mengingatkan Bali dan Tiongkok memiliki ikatan historis dan kultural yang panjang.
“Di pura-pura Bali, ada pemujaan terhadap dewa-dewi Tiongkok. Nilai budaya kita banyak yang selaras,” ungkapnya.
Koster juga menekankan komitmennya mengawal langsung pembangunan PSEL Bali. Ia memastikan proyek berjalan sesuai rencana, dengan peletakan batu pertama pada Juli mendatang dan target rampung Oktober 2027.
“Ini proyek berteknologi tinggi pertama di Bali. Saya awasi ketat agar hasilnya maksimal,” tegasnya.
Di akhir pertemuan, Koster mengaku banyak belajar dari perjalanan Tiongkok yang kini menjadi kekuatan global.
“Tiongkok progresif dan menjadi panduan bagi kami. Secara pribadi, saya sangat mengagumi sosok Deng Xiaoping,” ujarnya.
Pertemuan ini bukan diplomasi, melainkan jembatan masa depan Bali yang bersih, modern, dan semakin terhubung dengan dunia.***

