Sektor Keuangan Bali Tetap Tangguh, Dorong Ekonomi Tumbuh 5,58 Persen

OJK.berkomitmen terus menjaga agar industri keuangan tetap stabil, resilien, dan adaptif terhadap tantangan ekonomi, baik global maupun domestik.

4 Juni 2026, 20:06 WIB

Denpasar– Kinerja industri jasa keuangan di Provinsi Bali hingga akhir Maret 2026 terpantau solid. Stabilitas ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi daerah yang sukses mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,58 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal pertama 2026.

Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, menegaskan, pencapaian ini merupakan hasil dari sinergi yang positif antara sektor keuangan dan geliat ekonomi masyarakat Bali.

Pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga agar industri keuangan tetap stabil, resilien, dan adaptif terhadap tantangan ekonomi, baik global maupun domestik.

“Kami berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas industri jasa keuangan agar tetap resilient dan adaptif dalam menghadapi dinamika yang ada, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali secara berkelanjutan,” ujar Parjiman dalam keterangan resminya, Kamis (4/6/2026).

Intermediasi perbankan di Bali menunjukkan tren positif dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai.

Penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh signifikan sebesar 8,19 persen menjadi Rp146,47 triliun.

Secara sektoral, kredit untuk akomodasi serta penyediaan makan dan minum mencatatkan penambahan nominal terbesar, yakni mencapai Rp2,07 triliun atau tumbuh 15,35 persen.

Hal ini menunjukkan bangkitnya sektor pariwisata yang didukung oleh ekspansi perbankan. Selain itu, porsi kredit bagi UMKM juga masih mendominasi dengan kontribusi mencapai 51,25 persen dari total kredit di Bali.

Kualitas kredit pun tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross turun ke angka 2,56 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tidak hanya di sektor perbankan, antusiasme masyarakat Bali terhadap pasar modal juga melonjak. Jumlah investor pasar modal di Bali mencatatkan pertumbuhan double digit, yakni mencapai 392.841 Single Investor Identification(SID) atau tumbuh 29,67 persen secara tahunan.

Investor saham menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan mencapai 31,97 persen

Guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, OJK terus menggenjot literasi dan inklusi keuangan.

Hingga April 2026, total kegiatan edukasi keuangan di Bali—baik yang dilakukan mandiri oleh OJK maupun kolaborasi dengan pelaku industri jasa keuangan—telah menjangkau lebih dari 448 ribu peserta.

Di sisi perlindungan konsumen, OJK Provinsi Bali telah menerima 653 pengaduan hingga April 2026. Masalah perilaku petugas penagihan dan restrukturisasi kredit menjadi topik yang paling sering diadukan.

Parjiman mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap penawaran investasi ilegal.

“Masyarakat diimbau untuk selalu memastikan aspek Legal dan Logis sebelum memilih produk keuangan,” tegasnya.

Bagi masyarakat yang menemukan indikasi aktivitas keuangan mencurigakan, OJK menyarankan agar segera melapor melalui situs www.sipasti.ojk.go.id atau menghubungi Kontak OJK di nomor 157. ***

Berita Lainnya

Terkini