Denpasar – Pemerintah Provinsi Bali terus mengintensifkan langkah strategis dalam membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Upaya ini bukan sekadar menjaga kebersihan, melainkan juga memastikan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pariwisata yang menjadi denyut nadi Pulau Dewata.
Di tingkat hulu, edukasi masyarakat menjadi garda terdepan. Gerakan memilah sampah sejak dari sumber, pengurangan plastik sekali pakai, serta keterlibatan desa adat, sekolah, dan komunitas lokal digencarkan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif.
Semangat gotong royong ini menjadi fondasi kuat dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah berbasis sumber.
Memasuki tahap pengolahan, pemerintah mengoptimalkan peran Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
Di Denpasar dan Kabupaten Badung, puluhan unit TPS3R kini beroperasi, memungkinkan masyarakat mengolah sampah secara mandiri. Hasilnya, volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.
Sementara di sektor hilir, pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) menjadi langkah penting. Dengan teknologi modern dan efisien, TPST hadir untuk menangani residu sampah sekaligus mengurangi beban TPA.
Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat efektivitas sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Strategi besar ini menitikberatkan pada tiga hal: pengurangan sampah dari sumber, optimalisasi pengolahan di TPS3R, dan minimisasi residu melalui TPST.
Dengan dukungan infrastruktur yang terus berkembang serta partisipasi aktif masyarakat, pemerintah optimistis Bali akan menjadi contoh nyata pengelolaan sampah berkelanjutan yang memberi dampak positif bagi lingkungan dan masa depan pariwisata.***

