Nusa Dua -Pulau Dewata kembali menjadi pusat industri pariwisata dunia dengan dibukanya The 12th Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 pada 28 Mei di Nusa Dua.
Malam pembukaan dihadiri oleh para pemimpin nasional dan daerah, termasuk mentri pariwisata, perwakilan dari Kementerian Luar Negeri, pelaku industri pariwisata, buyer internasional, media, sponsor, serta mitra strategis.
Kehadiran para menteri terkait dengan pariwisata Indonesia semakin menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pariwisata sebagai penggerak ekonomi nasional, sementara dukungan kedua kementerian memperkuat peran BBTF dalam promosi destinasi, kepercayaan pasar, dan diplomasi ekonomi.
Mengusung tema gastronomi, ajang strategis untuk memperkenalkan kekayaan kuliner dan budaya Indonesia sebagai daya tarik wisata yang lebih berkelas dan bermakna bagi wisatawan mancanegara.
Putu Winastra, S.AB, M.A.P., Chairman BBTF 2026 yang juga Ketua ASITA Bali, menyampaikan BBTF telah berkembang melampaui fungsi sebagai pameran pariwisata.
BBTF kini menjadi platform bisnis yang membangun kepercayaan antara ekosistem pariwisata Indonesia dan pasar global.
“BBTF 2026 bukan sekadar ruang pertemuan antara buyer dan seller. BBTF adalah ruang kepercayaan, akuntabilitas, dan kemitraan,” ujar I Putu Winastra.
“Buyer yang hadir dalam BBTF merupakan pelaku bisnis pariwisata yang memiliki reputasi, pengambil keputusan, jaringan distribusi global, dan mitra strategis industri. Satu buyer memiliki potensi untuk membawa ribuan wisatawan ke Indonesia setiap tahunnya.
Melalui BBTF, kami ingin memastikan Bali dan Indonesia tidak hanya dilihat sebagai destinasi yang indah, tetapi juga sebagai mitra pariwisata yang terpercaya, kompetitif, dan bernilai bagi pasar internasional.”
Winastra menegaskan dampak BBTF tidak hanya dirasakan oleh hotel dan pelaku usaha besar.
Platform ini juga membuka peluang bagi destination management company lokal, pelaku wisata budaya dan wellness, usaha berbasis gastronomi, operator transportasi, destinasi wisata, atraksi, layanan pariwisata, serta UMKM yang menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata Indonesia.
“Pariwisata harus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. BBTF membuka akses langsung bagi seller Indonesia kepada buyer yang serius, sekaligus memberi kesempatan kepada pasar global untuk memahami kekayaan produk pariwisata Indonesia secara lebih utuh — dari Bali hingga berbagai destinasi beyond Bali,”tambahnya.
Tahun ini, antusiasme pelaku industri sangat tinggi. BBTF 2026 berhasil mempertemukan 407 buyer internasional dari 44 negara dengan ratusan pelaku wisata lokal dari berbagai provinsi di Indonesia.
Pertemuan ini menjadi krusial untuk membangun kepercayaan pasar global, di mana satu buyer berpotensi membawa ribuan wisatawan ke Indonesia setiap tahunnya, sekaligus membuka akses pasar bagi UMKM hingga pengelola destinasi wisata lokal.
Acara ini juga mempromosikan destinasi lainnya di Indonesia agar lebih dikenal dunia.
Melalui program post-tour dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk DKI Jakarta sebagai co-host, BBTF 2026 menegaskan masa depan pariwisata Indonesia kini lebih berorientasi pada kualitas, keberlanjutan, dan manfaat ekonomi yang dirasakan secara luas oleh masyarakat lokal, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan semata. ***

