Menteri Kelautan dan Perikanan: Rehabilitasi Mangrove Kunci Ketahanan Pangan dan Produktivitas Perikanan

Menteri Trenggono menyatakan pemulihan ekosistem mangrove tidak boleh sekadar berfokus pada kegiatan penanaman saja, melainkan harus dijalankan secara berbasis kesesuaian ekologis.

27 Juli 2026, 04:59 WIB

DenpasarMenteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa program rehabilitasi mangrove memegang peran krusial dalam menopang produktivitas sektor perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Penegasan tersebut disampaikannya pada puncak Peringatan Hari Mangrove Sedunia yang dipusatkan di Denpasar, Bali, pada Minggu (26/7).

Menurut Menteri Trenggono, pemulihan ekosistem mangrove tidak boleh sekadar berfokus pada kegiatan penanaman saja, melainkan harus dijalankan secara berbasis kesesuaian ekologis.

Sinergi lintas sektor serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dinilai mutlak diperlukan agar upaya rehabilitasi mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan laut dan wilayah pesisir.

Indonesia dihadapkan pada tantangan kerusakan lingkungan yang cukup signifikan, di mana data menunjukkan hilangnya sekitar 40% mangrove dalam tiga dekade terakhir.

Laju kerusakan tercatat mencapai 52 ribu hektare per tahun, dengan 19,26% dari total kawasan saat ini berada dalam kondisi kritis akibat faktor alam dan peningkatan populasi manusia.

Padahal, ekosistem mangrove memiliki fungsi strategis berlapis, mulai dari:

Sebagai pelindung alami kawasan pesisir

Habitat perkembangbiakan berbagai biota laut

Penopang utama produktivitas perikanan dan mata pencaharian masyarakat

Instrumen penting penyerap emisi karbon untuk memitigasi perubahan iklim

Sebagai langkah nyata, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan perluasan kawasan konservasi laut—yang mencakup mangrove, padang lamun, dan terumbu karang—hingga mencapai 97,5 juta hektare pada tahun 2045 guna menjamin keberlanjutan produktivitas perikanan tangkap nasional.

KKP juga mengombinasikan kegiatan restorasi dengan program pengembangan kawasan budi daya, salah satunya melalui revitalisasi tambak kurang produktif di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa tahap pertama seluas 14 ribu hektare.

Langkah ini dirancang untuk memperbaiki ekosistem pesisir, menyerap tenaga kerja lokal, sekaligus mendongkrak volume produksi perikanan.

Upaya tersebut menjadi semakin mendesak mengingat proyeksi populasi global yang diperkirakan menyentuh angka 9,66 miliar jiwa pada tahun 2050, dengan 320,7 juta jiwa di antaranya berada di Indonesia. Lonjakan penduduk ini dipastikan akan memicu peningkatan tajam terhadap kebutuhan pangan dan pasokan protein.***

Berita Lainnya

Terkini