Kisah Seniman Walter Spies dan Bali Lewat ‘Roots’, Film Dokumenter Fiksi yang Sambangi Bandung, Jakarta dan Bogor

Yudha Bantono selaku pemegang hak pemutaran Film Roots di Indonesia menjelaskan film ini mengajak penonton untuk menelusuri jejak hidup Spies sejak kedatangan pertamanya pada tahun 1925 hingga warisannya yang kompleks di era modern.

2 Agustus 2026, 07:16 WIB

BandungFilm dokumenter fiksi berjudul Roots – One Hundred Years Walter Spies in Bali karya sutradara Michael Schindhelm resmi menyapa para penikmat seni di Kota Bandung.

Setelah sebelumnya sukses menggelar pemutaran keliling di Pulau Jawa, rangkaian tur film ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari publik seni setempat di tiga lokasi berbeda, yakni Humanika Art Space, Orbital Dago, serta Nu Art Sculpture Park.

Film ini menghadirkan narasi mendalam mengenai perjalanan hidup Walter Spies, seorang seniman kelahiran Moskow berkebangsaan Jerman, serta bagaimana jejaknya berkelindan dengan perkembangan Bali selama kurun waktu satu abad terakhir.

Tidak sekadar mengenang sejarah, film ini juga membawa misi kritis untuk melihat kembali dampak kemajuan zaman terhadap Pulau Dewata.

Yudha Bantono selaku pemegang hak pemutaran Film Roots di Indonesia menjelaskan film ini mengajak penonton untuk menelusuri jejak hidup Spies sejak kedatangan pertamanya pada tahun 1925 hingga warisannya yang kompleks di era modern.

“Film Roots tidak hanya menyorot kontribusi artistik Spies dari pelestarian tari hingga estetika visual, tetapi juga membuka diskursus tentang dinamika kuasa budaya, kolonialisme, dan dampak pariwisata,” ujar Yudha.

Ia menambahkan, film tersebut menggabungkan elemen dokumenter dan fiksi guna menggali peran Spies sebagai katalisator kreatif sekaligus figur kontroversial. Penyajiannya diperkuat melalui arsip, rekonstruksi visual, serta wawancara bersama para akademisi seni, budayawan, seniman, penggiat LSM, hingga aktivis lingkungan hidup.

Antusiasme tinggi turut dirasakan oleh para pengelola ruang seni yang menjadi tuan rumah pemutaran. Andang Iskandar, pendiri Humanika Art Space, menilai bahwa penayangan film ini memberikan ruang refleksi yang luas bagi publik.

 

“Melalui kisah Walter Spies kita juga banyak belajar tentang bagaimana membangun ruang dialog imajiner dalam melihat Bali di masa lalu, sekarang dan masa depan. Film ini sangat menarik bukan saja gagasan yang dihadirkan, tapi kita benar-benar mengajak kita untuk melihat apa yang terjadi di sekitar kita, dan apa yang harus kita perbuat untuk masa depan yang lebih baik dari segala perubahan yang terjadi,” ungkap Andang.

Senada dengan Andang, kurator sekaligus host di Orbital Dago, Rifky Effendy, menyoroti bagaimana film ini merajut kisah mulai dari tragedi kehidupan Walter Spies hingga transformasi Bali akibat industri pariwisata.

Menurutnya, Roots mampu menggerakkan hati para seniman untuk peduli terhadap masa depan Bali maupun Indonesia secara lebih luas.

Dari kacamata seni rupa patung, maestro seniman Indonesia sekaligus pemilik Nu Art Sculpture Park, Nyoman Nuarta, memberikan apresiasi mendalam terhadap penayangan film ini di ruang sinema miliknya.

“Publik tidak boleh melupakan sosok Walter Spies dalam perkembangan seni di tanah air, dan bagaimana pula ia turut mempopulerkan Bali untuk dikenal dunia,” tegas pematung di balik mahakarya GWK dan IKN tersebut, seraya menyatakan bahwa pemutaran ini memperkaya ruang dialog seni secara berkelanjutan.

Rangkaian pemutaran di Bandung semakin lengkap dengan kehadiran seniman Bali, Gus Dark, yang juga terlibat sebagai salah satu pelaku di dalam film Roots sekaligus pameran seni rupa Roots yang sebelumnya telah ditampilkan di KBH.G Basel, Swiss, dan ARMA Museum, Ubud, Bali.

“Saya memberikan apresiasi kepada tiga venue dan publik yang telah hadir dan turut serta memberikan respon tentang isi film Roots, kami ingin membangun jejaring dengan seniman di Bandung untuk bersama-sama saling mendukung dalam membuat masa depan Bali dan negeri ini yang lebih baik,” kata Gus Dark.

Setelah menyelesaikan agendanya di Bandung, perjalanan tur Film Roots akan berlanjut ke sembilan titik pemutaran lainnya. Di wilayah Jakarta, film ini dijadwalkan tayang di Getback Parlour, Taman Ismail Marzuki (TIM), Contemporary Art Gallery TMII, Galery Zen, serta ditutup di Galeri Cemara 6 – Toeti Heraty Museum. Sementara itu, untuk wilayah Bogor, pemutaran akan dilangsungkan di Hutan Rimba dan Langgar Aksara Nusantara.***

Berita Lainnya

Terkini