Diskoma UGM Soroti Kuasa Platform Digital Dan Dampaknya Terhadap Media

29 Mei 2026, 22:48 WIB

Yogyakarta – Diskusi Komunikasi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) gelar diskusi secara daring bertajuk “Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi” edisi ke-29, pada Jumat (22/05/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh 76 peserta lintas platform (Zoom dan YouTube).

Sebagai pemilik riset sekaligus praktisi senior agensi periklanan, Janoe Arijanto memaparkan data mutakhir dari DataReportal dan Reuters Institute (2024) yang mencatat Indonesia kini memiliki 221 juta pengguna internet aktif dan 139 juta pengguna media sosial. Mirisnya, sebanyak 60,4 persen konsumsi berita saat ini justru terjadi melalui platform media sosial.

Menurut Janoe, elemen algoritma seperti personalisasi feed, pelacakan data perilaku, riwayat klik, pembentukan echo chamber dan filter bubble, hingga bias AI dalam kurasi informasi telah memaksa media modern bertransformasi menjadi platformized newsroom.

“Salah satu dampak paling fatal dari sistem ini dirasakan langsung oleh media-media lokal di daerah,” katanya.

Ia menyebut, platform digital saat ini telah dirancang oleh kecerdasan buatan (AI) untuk menampilkan ringkasan artikel hanya dalam satu atau dua paragraf (zero-click search/content), sehingga audiens merasa tidak perlu lagi mengklik dan mengunjungi situs berita aslinya.

“Dampak sistemik ini sangat memukul seluruh lembaga yang menyandarkan format komunikasinya pada platform digital,” kata Janoe.

Founder sekaligus Creative Lead SH Creative, Siska Handiska, turut membagikan pengalamannya yang setiap hari harus berkompromi dengan logika platform untuk memenuhi target klien yang kini selalu menuntut branding dan jumlah penonton (viewers).

“Yang paling terasa bagi kami sebagai praktisi adalah bagaimana algoritma ini memengaruhi cara kami bekerja, mulai dari ide kreativitas hingga menentukan apakah konten kami berhasil, semi berhasil, atau bahkan gagal,” ungkap Siska.

Menurutnya, perubahan ini memaksa agensi melakukan restrukturisasi tim secara radikal. Jika dahulu sebuah agensi cukup diisi oleh desainer, copywriter, dan admin, kini tuntutan platform mewajibkan hadirnya peran-peran baru seperti content strategist, scriptwriter, hingga video editor.

Dominasi platform digital tak hanya mengubah lanskap industri media dan periklanan, tetapi juga mendefinisikan ulang cara kebenaran ditentukan, diberi nilai, dan dilegitimasi di ruang publik.***

Berita Lainnya

Terkini