Harum Bunga Pacah di Tengah Tantangan Cuaca: Berkat KUR BRI, Petani Badung Tetap Semringah

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan pihaknya konsisten menggenjot penyaluran KUR ke sektor-sektor riil yang produktif, salah satunya pertanian.

29 Juli 2026, 22:01 WIB

Badung -Pernahkah Anda bertanya-tutup dari mana pasokan bunga segar untuk sarana upacara di Bali selalu aman tersedia? Jawabannya ada di tangan para petani tangguh seperti Made Tarji, warga Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung.

Di tengah naik turunnya harga pasar dan cuaca yang tidak menentu, Tarji dan petani lainnya tetap gigih merawat asa di ladang bunga pacah mereka.

Tentu saja, menjaga pasokan tetap lancar bukanlah perkara mudah. Untuk satu siklus tanam saja, Tarji merogoh kocek hingga Rp20 juta.

Modal besar ini wajib disiapkan jauh-jauh hari sebelum bunga bisa dipanen demi menutupi biaya pengolahan lahan, pembelian bibit unggul, pupuk, hingga perawatan rutin.

Bantuan modal sangat membantu petani. Karena sebelum panen, biaya untuk pengolahan lahan, bibit, pupuk sampai perawatan sudah lebih dulu dikeluarkan,” ungkap Tarji saat ditemui langsung di sela kesibukannya di sawah, Senin (27/7/2026).

Untungnya, beban berat para petani ini sedikit banyak terbantu berkat adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Akses pembiayaan tersebut menjadi penopang modal yang krusial agar roda produksi budidaya bunga pacah terus berputar tanpa hambatan berarti.

Bunga pacah dikenal sebagai komoditas yang butuh perhatian ekstra. Tanaman ini mulai memamerkan kelopak indahnya sekitar tiga minggu setelah masa tanam, dan siap dipanen setiap hari selama dua hingga tiga bulan ke depan jika perawatannya optimal.

Di masa awal panen, Tarji bisa meraup hasil sekitar 35 kilogram per hari, yang nantinya berangsur turun menjadi kisaran 25 hingga 27 kilogram per hari.

Kendati kebutuhan umat Hindu di Bali terhadap sarana upacara tergolong stabil, urusan dompet petani tetap saja diuji oleh hukum pasar. Saat panen raya melimpah ruah, harga jual bunga pacah bisa merosot tajam hingga Rp10.000 per kilogram.

Sebaliknya, saat cuaca buruk membuat hasil panen merosot, harganya bisa melambung hingga Rp40.000 per kilogram.

Ditambah lagi, sifat bunga pacah yang tidak bisa disimpan lama membuat petani harus bergerak cepat melepas hasil panen ke pengepul dengan harga pasar yang berlaku. Di sinilah kepiawaian mengelola modal dari KUR BRI menyelamatkan napas usaha mereka.

Keberhasilan para petani menjaga tradisi dan pasokan pasar ini mendapat perhatian penuh dari pihak perbankan.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan pihaknya konsisten menggenjot penyaluran KUR ke sektor-sektor riil yang produktif, salah satunya pertanian.

Menurut Hery, suntikan dana segar ini tidak sekadar berfungsi sebagai modal kerja biasa, melainkan instrumen penting untuk mendongkrak produktivitas sekaligus menjaga keberlangsungan hidup UMKM di daerah.

“Kami melihat sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah.

Melalui KUR, BRI ingin memastikan para petani memiliki akses pembiayaan yang memadai sehingga dapat mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, serta menjaga kesinambungan produksi,” tutur Hery.

Ia juga menambahkan, BRI berkomitmen untuk terus membuka pintu seluas-luasnya bagi pelaku usaha produktif yang memiliki prospek cerah.

Diharapkan, kolaborasi antara ketekunan petani lokal dan dukungan finansial yang tepat sasaran ini bisa membawa kesejahteraan yang merata sekaligus memperkokoh ekosistem pertanian di Pulau Dewata. ***

Berita Lainnya

Terkini