Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan masa depan pertanian Bali tidak boleh berjalan sendiri, melainkan harus berpadu dengan pariwisata berbasis budaya.
Menurutnya, sinergi kedua sektor ini bukan hanya menjaga keindahan bentang alam, tetapi juga memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Pesan itu disampaikan Koster saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Kantor Gubernur Bali, Renon, Kamis (2/7).
Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengundang Koster sebagai key note speaker pada Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian, yang akan menghadirkan sekitar 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi.
Koster menekankan, pertanian tidak boleh sekadar menjadi latar belakang indah bagi pariwisata.
“Pertanian harus berjalan seiring dengan pariwisata. Kalau hanya dilindungi tanpa meningkatkan pendapatan petani, itu tidak adil. Petani harus menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat,” tegasnya.
Bali memiliki kekuatan unik yang tak dimiliki daerah lain: sistem pertanian yang menyatu dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal.
Dari proses pembibitan hingga panen, setiap tahap selalu diiringi upacara dan ritual, menjadikan pertanian Bali aktivitas teknis, warisan budaya dan spiritual yang bernilai tinggi.
Koster mempresentasikan konsep ini di forum internasional di London, termasuk mengenai Peraturan Daerah tentang Pertanian Organik satu-satunya regulasi sejenis di Indonesia.
“Di Bali, bertani tidak hanya menanam. Ada nilai budaya dan spiritual yang menyertainya. Inilah identitas Bali yang diminati dunia,” ujarnya.
Di tengah arus globalisasi, Koster meyakini Bali tidak perlu mencari jati diri baru. “Kita sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal, karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali,” tandasnya.***

