Denpasar – Ratusan jamaah memadati Masjid Agung Sudirman, Denpasar, untuk menunaikan ibadah Salat Jumat pada Jumat (7/8/2026). Bertindak sebagai khatib, Dr KH Hafidzun Muhsin menyampaikan khutbah mendalam menyoroti pentingnya menjaga kehangatan interaksi di dunia nyata di tengah masifnya penggunaan media sosial.
Dalam khutbahnya, Ustaz Hafidzun mengawali pesan dengan mengingatkan kembali tujuan penciptaan manusia agar senantiasa beribadah dan mengarahkan aktivitas sehari-hari untuk berzikir kepada Allah SWT.
Hakikat takwa, menurutnya, bukan sekadar ucapan lisan, melainkan kesadaran penuh fisik, hati, and pikiran sebagai hamba yang taat menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya.
Mengaitkan momentum bulan Muharam dengan sejarah Islam, khatib mengajak jamaah meneladani strategi Nabi Muhammad SAW saat awal kepemimpinan di Madinah.
Rasulullah SAW terbukti lebih dulu fokus membangun kualitas sumber daya manusia, baik keluarga maupun masyarakat, sebelum membahas urusan politik atau ekonomi secara instan.
Poin penting yang menjadi sorotan utama dalam khutbah tersebut adalah transformasi makna ifsyus salam (menyebarkan salam) di era modern. Dia mengingatkan adanya fenomena kontradiktif di tengah masyarakat modern:
Hari ini banyak orang yang aktif di media sosial namun pasif di depan orang tua dan keluarga. Padahal, budaya bertemu, bersalaman, dan bertegur sapa secara langsung akan menumbuhkan kasih sayang yang omongannya tentu berbeda ketika hanya disapa dalam dunia maya.
Khatib menegaskan makna salam di era kekinian harus diperluas secara bijak, yakni mencakup komitmen menjaga lisan dari ucapan keji, menjaga tangan dari tulisan hoaks, serta menghindari segala bentuk provokasi di dunia maya.
Ia juga mengimbau jamaah agar tidak menjadikan kesibukan kerja dari pagi hingga malam sebagai alasan untuk kehilangan waktu berkualitas bagi keluarga dan sesama. Silaturahim tatap muka dinilai sebagai bagian dari pilar kebaikan (birrul walidain) yang dicintai oleh Allah SWT.
Di penghujung khutbah, Ustaz Hafidzun Mushin mendoakan agar situasi kebersamaan umat Islam dapat kembali erat seperti pada masa Rasulullah SAW bersama para sahabat—duduk bersila, berdampingan, dan saling menghargai—demi meraih keselamatan serta keridaan menuju surga-Nya.***

