Badung – Tantangan permodalan seringkali menjadi batu sandungan bagi pelaku UMKM, terutama saat harus memenuhi pesanan besar namun terkendala cash flow atau arus kas. Memahami kesulitan tersebut, Koperasi Ngardi Rahayu hadir dengan inovasi layanan invoice financing untuk menjembatani kebutuhan modal para mitra usaha.
Ketua Koperasi Ngardi Rahayu, I Made Suana, menjelaskan, skema ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas bagi pelaku usaha, khususnya bagi mereka yang telah memiliki pesanan namun masih menunggu pembayaran dari pihak pembeli.
“Kami hadir untuk menalangi invoice Bapak/Ibu. Jadi, ketika barang sudah dikirim ke hotel dan invoice sudah keluar, Bapak/Ibu bisa membawanya ke koperasi, dan kami akan memberikan dana tunai sesuai nilai invoice tersebut,” ujar I Made Suana saat memberikan pemaparan dalam acara Gathering dan Sarasehan Kawan Jenar (Jejaring Entrepreneur Ngardi Rahayu) di Lerina Hotel, Nusa Dua, Sabtu (19/07/2026).
Menurut I Made Suana, model bisnis ini jauh lebih efisien bagi para pengusaha. Pelaku usaha tidak perlu mengajukan pinjaman dengan nominal besar yang membebani bunga, melainkan hanya membiayai kebutuhan sesuai dengan invoice yang ada.
Sistem yang dibangun Koperasi Ngardi Rahayu ini memungkinkan pengusaha untuk tetap menjaga operasional bisnisnya tanpa harus terjerat bunga pinjaman yang tinggi.
Nantinya, setelah jatuh tempo pembayaran dari hotel atau pembeli tiba, pihak hotel akan melakukan pembayaran langsung ke rekening koperasi, sementara koperasi hanya mengambil sedikit margin sebagai biaya jasa.
“Ini membuat operasional bisnis menjadi lebih realistis dan hemat. Pengusaha hanya membayar biaya untuk modal yang memang dibutuhkan saja,” tambah Made Suana.
Selain invoice financing, Koperasi Ngardi Rahayu juga berkomitmen untuk terus membimbing para anggotanya dalam menyusun laporan keuangan yang baik, termasuk memahami perbedaan antara biaya operasional (opex) dan belanja modal (capex).
Melalui langkah ini, diharapkan para pelaku UMKM di bawah naungan Kawan Jenar dapat lebih profesional dan memiliki daya saing yang lebih kuat di sektor industri pariwisata maupun sektor bisnis lainnya.***

