Menjaga Marwah Budaya Bali, Arma Fest Keempat Usung Konsep ‘Living Museum’ di Ubud

Ketua Yayasan ARMA sekaligus Ketua Generasi Muda ARMA, Agung Yudi, menegaskan pentingnya peran museum sebagai ruang kreatif yang dinamis bagi lintas generasi.

20 September 2026, 07:42 WIB

Gianyar— Ajang tahunan Agung Rai Museum of Art (ARMA) Festival kembali digelar dengan menghadirkan napas baru bagi pelestarian seni dan budaya. Pada pembukaan Arma Fest yang keempat di ARMA Ubud, Sabtu (19/9/2026),

Ketua Yayasan ARMA sekaligus Ketua Generasi Muda ARMA, Agung Yudi, menegaskan pentingnya peran museum sebagai ruang kreatif yang dinamis bagi lintas generasi.

Agung Yudi menyampaikan pelaksanaan festival ini merupakan bentuk tanggung jawab berkelanjutan dalam merawat marwah ARMA serta seni dan budaya Bali.

Menurutnya, ARMA dirancang menjadi sebuah living museum tempat berbagai program kreatif berjalan secara aktif.

“ARMA tidak akan selalu milik satu orang atau figur semata. ARMA menjadi besar karena ada dukungan dari semua kalangan, baik seniman, budayawan, hingga masyarakat, yang menjadikan ARMA sesuatu yang sangat unik hingga mampu berdiri di usianya yang ke-30 tahun ini,” ujar Agung Yudi di hadapan para tamu undangan.

Ia juga menekankan festival ini berfungsi sebagai jembatan penghubung antara seniman senior dan generasi muda.

Melalui Arma Fest, ruang kolaborasi dibuka seluas-luasnya bagi para seniman muda, budayawan, hingga Dinas Kebudayaan untuk bersama-sama merekonstruksi budaya Bali agar tetap ajek dan lestari.

Selain merangkul para kreator muda, festival ini turut memberikan ruang dan dukungan nyata bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Langkah ini diambil guna memastikan sinergi antara tradisi dan tren kekinian dapat berjalan beriringan tanpa menghilangkan akar budaya asli Bali.

Arma Fest ini sekali lagi adalah suatu jembatan antara yang lama dan yang baru, bagaimana memberikan ruang bagi generasi muda untuk melakukan rekonstruksi budaya yang tetap menjaga marwahnya sebagai sebuah kanal budaya Bali,” pungkasnya.

ARMA Fest mengusung prinsip keberlanjutan (sustainable) serta komitmen kuat untuk memberikan ruang luas bagi seniman lokal dan berbagai lapisan masyarakat sebagaimana ditegaskan General Manager ARMA Ubud, Made Suhartana.

Made Suhartana menegaskan penyelenggaraan ARMA Fest upaya konsisten dalam memberikan kesempatan dan panggung bagi para pelaku seni.  

“Kami tidak melihat dari angka, tetapi kami melihat dari nilai apa yang bisa kami berikan kepada masyarakat,” ujar Made Suhartana di hadapan para awak media.

Ia menambahkan pencapaian karya seniman yang dapat dipajang hingga dipamerkan di museum sudah merupakan bentuk apresiasi dan “pembaptisan” tersendiri yang luar biasa.  

Rangkaian acara ARMA Fest kali ini di antaranya diisi dengan pembukaan pameran lukisan bertajuk Style Keling pada 17 September lalu di veranda Museum ARMA.

Pameran ini menampilkan karya-karya dari para seniman asli Desa Keling serta hasil karya para generasi muda setempat.  

Selain pameran seni rupa, festival ini juga diramaikan oleh berbagai kegiatan kebudayaan harian, termasuk pertunjukan seni (cultural performance) dan tarian di panggung terbuka (open stage) yang melibatkan kelompok-kelompok kesenian dari area lokal.  

Selain itu, pementasan seni tradisional juga turut memeriahkan festival, seperti Tari Merti Ning Padi oleh anak-anak Semara Murah (35 orang), tari pendek dari Sanggar Kumarasari yang didukung oleh Sanggar Mangkang (45 orang), serta pementasan dari sembilan grup belaganjur yang dibagi dalam dua hari penyelenggaraan dengan total ratusan pengisi acara.  

Terkait sektor ekonomi kerakyatan, pihak penyelenggara memastikan bahwa seluruh transaksi yang terjadi pada stan-stan UMKM murni diserahkan sepenuhnya kepada para pelaku UMKM tanpa adanya potongan keuntungan dari pihak museum.  

Melalui penyelenggaraan ARMA Fest, pihak manajemen berharap museum dapat terus terbuka bagi semua generasi, mulai dari tingkat anak-anak sekolah hingga masyarakat umum, guna merawat dan melestarikan ekosistem seni budaya Bali secara berkelanjutan.

Acara pembukaan yang berlangsung meriah ini kemudian dilanjutkan dengan sesi interaktif dan tanya jawab bersama para pengunjung serta pegiat seni yang hadir.***

Berita Lainnya

Terkini