Badung– Isu krusial mengenai transisi energi global, ketahanan energi regional, dan kelestarian lingkungan menjadi topik sentral yang mengemuka dalam The SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition (APDT) 2026 di Hotel Westin, Nusa Dua, Badung.
Forum internasional yang mempertemukan sekitar 800 peserta dari 39 negara ini tidak hanya membahas kemajuan teknologi pengeboran, tetapi juga menyoroti komitmen nyata para pemimpin industri dan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, pembangunan ekonomi dan sektor energi harus berjalan seirama dengan upaya perlindungan lingkungan hidup.
Pengalamannya menghadiri forum perubahan iklim di London semakin meyakinkannya bahwa kelestarian alam dan kearifan lokal merupakan fondasi mutlak yang tidak boleh dikorbankan demi pertumbuhan industri semata. Oleh karena itu,
Pemerintah Provinsi Bali secara konsisten mengimplementasikan kebijakan transisi energi bersih.
“Kami ingin Bali menjadi provinsi yang ramah lingkungan dan menjadi contoh pembangunan berkelanjutan. Karena itu kami terus memperkuat kebijakan energi bersih, pengurangan emisi karbon, serta penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan,” ujar Gubernur Koster.
Sebagai bentuk konkret dari komitmen tersebut, Pemprov Bali telah mengambil langkah-langkah strategis di sektor energi dan lingkungan, mulai dari penghentian pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, mendorong penggunaan kendaraan bermotor berbasis baterai, hingga menjalankan program pengelolaan sampah berbasis sumber dari rumah tangga dan pembatasan plastik sekali pakai.
Kendati demikian, Gubernur Koster mengingatkan energi tetap merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang sejajar dengan pangan dan air. Di tengah jumlah penduduk Indonesia yang melampaui 280 juta jiwa, ketahanan energi nasional harus tetap terjamin tanpa mengorbankan masa depan bumi.
“Saya berharap konferensi ini dapat melahirkan berbagai inovasi dan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan energi dunia secara berkelanjutan. Indonesia harus mampu memastikan kebutuhan energi masyarakatnya terpenuhi, namun tetap menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Pandangan senada mengenai pentingnya perimbangan antara pemenuhan energi dan tanggung jawab ekologis turut disuarakan oleh para pemimpin industri energi yang hadir.
Secretary-in-Charge ASEAN Council on Petroleum & Energy (ASCOPE), Henricus Herwin, menegaskan urgensi kolaborasi antarnegara ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi kawasan di tengah dinamika transisi energi global.
Menurutnya, forum APDT menjadi wadah strategis untuk menyinergikan inovasi teknologi pengeboran yang tidak hanya aman dan efisien, tetapi juga ramah lingkungan.
Dari sudut pandang operasional industri, President Dynamic Drilling sekaligus anggota IADC Executive Committee, Manav Kumar Agarwal, menyampaikan sektor pengeboran modern saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Selain dituntut untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keselamatan kerja, industri migas kini dihadapkan pada tuntutan global yang ketat terkait pengurangan emisi karbon.
Ia berharap APDT 2026 mampu menjadi sarana pertukaran praktik terbaik (best practices) bagi para operator dan kontraktor dalam menekan jejak lingkungan.
Sementara itu, Deputy CEO PT Pertamina Hulu Energi, Virano G. Nasution, dalam Opening Remarks-nya menggarisbawahi transformasi industri pengeboran menuju masa depan energi yang berkelanjutan mutlak memerlukan terobosan teknologi.
Ia menyatakan Pertamina Hulu Energi merasa bangga dapat menjadi tuan rumah, mengingat masa depan energi yang cerdas dan ramah lingkungan hanya bisa diwujudkan melalui penguatan sumber daya manusia dan kolaborasi lintas negara di kawasan Asia Pasifik.***

