Kemarau Ancam DIY, Guru Besar UGM Dorong Warga Revitalisasi Budaya Panen Air Hujan Demi Kemandirian Krisis

Guru Besar Sekolah Vokasi UGM bidang Sumberdaya Air dan Lingkungan, Prof. Agus Maryono, menegaskan warga tidak bisa terus-menerus mengandalkan bantuan dropping air setiap tahun.

14 Agustus 2026, 16:31 WIB

Yogyakarta– Memasuki musim kemarau yang mulai melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi alarm serius bagi masyarakat untuk merumuskan strategi penanganan krisis air.

Guru Besar Sekolah Vokasi UGM bidang Sumberdaya Air dan Lingkungan, Prof. Agus Maryono, menegaskan warga tidak bisa terus-menerus mengandalkan bantuan dropping air setiap tahun.

Agus mendorong masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya lokal memanen air hujan serta aktif mengelola potensi sumber air yang ada di lingkungan sekitar.

“Jadi warga semuanya harus mulai belajar bagaimana menghadapi kemarau dengan cara yang pertama mencari sumber-sumber air yang masih tersisa di sekitar rumah, ruang desanya masing-masing digerakkan,” ujar Agus saat ditemui di Gedung Pusat UGM, Sleman, Jumat 14 Agustus 2026.

Menurut Agus, momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di pertengahan Agustus ini sangat tepat dimanfaatkan sebagai pemantik kesiapsiagaan warga secara gotong royong.

“Mumpung ada momen 17 Agustus, ayo kita mencari air sama-sama dan berupaya untuk belajar bagaimana masih bisa mendapatkan air ke depan,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, ada banyak sumber air alternatif yang masih bisa ditambang tanpa merusak ekosistem maupun infrastruktur. Beberapa di antaranya meliputi ceruk sungai yang mengering, telaga atau embung, saluran drainase dan irigasi, kawasan rawa, hingga sungai bawah tanah.

Selain itu, warga diminta mengoptimalkan kembali fasilitas pemanen air hujan (rainwater harvesting). Langkah ini terbilang krusial lantaran proyeksi curah hujan pada musim penghujung mendatang diperkirakan tidak setinggi biasanya.

“Sehingga dengan jumlah hujan sedikit, nampungnya harus lebih tenanan lebih banyak,” katanya. Ia mengingatkan bahwa memanen air hujan bukanlah hal asing bagi warga DIY. Praktik ini sudah lama mengakar di berbagai kawasan seperti Sleman, Gunungkidul, hingga Kulon Progo.

“Kalau di DIY yang perlu didorong itu adalah memanen air hujan. Itu harus didorong sebanyak maksimal. Mungkin bisnis memanen air hujan itu adalah budaya kita, budaya DIY,” jelas Agus. Ia mencontohkan, berdasarkan data yang diterimanya, terdapat sekitar 11.000 tangki pemanen air hujan di Kabupaten Gunungkidul.

Menurutnya, aset tersebut hanya perlu direvitalisasi agar berfungsi optimal kembali.
“Jadi ini dihidupkan lagi budaya memanen air hujan itu sehingga pada musim hujan bisa menampung sebanyak-banyaknya untuk musim kemarau,” tegasnya.

Bagi daerah yang selama ini langganan menerima bantuan dropping air, Agus mewanti-wanti agar bantuan tersebut dijadikan titik balik menuju kemandirian air, bukan ketergantungan.

“Daerah-daerah yang selama ini mendapatkan dropping air jangan terus menunggu lagi tahun depan dropping lagi. Tapi setelah dropping air sekarang, oke, sekarang saya mau bikin pemanen air hujan,” terangnya.

Terkait kendala biaya pembuatan instalasi baru, Agus menilai warga sebenarnya bisa memanfaatkan infrastruktur lama yang ada. Perawatan sederhana seperti memberi penutup, mengecat, serta rutin membersihkan dan menguras tangki sudah cukup untuk mengaktifkan kembali fasilitas penampungan air.

Selain itu, ia menyarankan agar sistem pemanen air hujan disesuaikan dengan standar higiene modern agar diminati oleh generasi muda. “Kalau dulu hanya langsung dari atap ke kolamnya, sekarang disaring dulu. Karena masyarakat baru atau anak-anak muda pengin semua higienis,” tuturnya.

Di sisi lain, menanggapi wacana teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menangani kekeringan dan bahaya kebakaran hutan, Agus menekankan bahwa metode tersebut sifatnya sangat terbatas dan berbiaya mahal.

“Itu kan namanya upaya emergensi. Kalau itu dipandang sangat emergensi saya masih bisa menyetujui. Tapi kalau itu tidak emergensi, sebentar-sebentar itu kan mahal,” imbuhnya.

Dibandingkan bergantung pada TMC, ia lebih mendorong solusi berbasis ilmu hidrologi hutan sebagai langkah mitigasi jangka panjang yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, ia berharap konsep hidrologi hutan tersebut dapat terus dikembangkan melalui riset-riset inovatif yang memberikan dampak dan manfaat langsung bagi masyarakat luas.

“Yang sustain seperti yang saya katakan tadi, ilmu hidrologi hutan itu harus dikembangkan sampai mencapai titik di mana kita bisa mencegah kekeringan dan kebakaran hutan dari memanen air hujan di hutan,” pungkas Agus. ***

Berita Lainnya

Terkini