Ini Dia Sisi Unik JFW 2026 yang Bikin Panggung Mode Jogja Beda dari yang Lain

Sri Paduka menegaskan kekuatan utama industri fashion Yogyakarta terletak pada akar budayanya yang terus hidup, lestari, dan relevan menembus zaman.

14 Agustus 2026, 20:11 WIB

Yogyakarta-Panggung mode bertaraf internasional kembali semarak di Yogyakarta. Gelaran busana bergengsi tahunan Jogja Fashion Week (JFW) 2026 resmi dibuka pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Memasuki edisi penyelenggaraan ke-21, ajang ini dipusatkan di Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Kabupaten Sleman, dengan mengusung tema besar “Roots to Resonance, Beyond”.

JFW 2026 hadir bukan sekadar sebagai peragaan busana biasa, melainkan dirancang sebagai jembatan strategis yang menghubungkan kekayaan identitas budaya lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan jejaring industri fashion global yang dinamis.

Acara pembukaan yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, yang hadir mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua TP PKK DIY GKBRAA Paku Alam X, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DIY, perwakilan Kementerian Dalam Negeri RI, serta para pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan mitra strategis Pemda DIY.

Dalam sambutan resmi yang dibacakannya, Sri Paduka menegaskan kekuatan utama industri fashion Yogyakarta terletak pada akar budayanya yang terus hidup, lestari, dan relevan menembus zaman.

Identitas Yogyakarta yang tersemat kuat dalam corak, motif, serta warna kain tradisional harus terus dipelihara melalui keberanian para kreator untuk terus mencipta karya baru.

“Justru kekuatan kita terletak pada kemampuan mengolah akar budaya menjadi karya yang autentik, bermutu, adaptif terhadap teknologi, serta mampu menjawab perubahan selera masyarakat dunia,” ujar Paku Alam X saat membacakan sambutan Gubernur DIY.

Melalui tema “Roots to Resonance, Beyond”, para desainer didorong untuk tidak melupakan identitas lokal, namun tetap memiliki fleksibilitas dan daya adaptasi yang tinggi terhadap tren serta teknologi modern agar karya mereka mampu bergema hingga ke kancah internasional.

Sebagai sebuah gerakan ekonomi kreatif yang komprehensif, JFW 2026 memikul misi mulia untuk memperluas jangkauan pasar produk-produk IKM lokal.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY sekaligus Ketua Panitia JFW 2026, Anton Raharja, menyampaikan bahwa ajang ini difokuskan untuk mengerek potensi ekspor produk fashion daerah.

“Ini sesuai dengan amanah dari Bapak Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk kita meningkatkan ekspor produk fashion ke mancanegara, tidak hanya nasional tapi juga internasional,” tegas Anton Raharja saat ditemui di lokasi kegiatan.

Anton menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini dirancang sangat komprehensif untuk melibatkan seluruh ekosistem industri mode secara luas selama empat hari penuh.

Sebanyak 164 desainer berbakat, 114 model profesional, serta 20 finalis Jogja Fashion Designer Competition dipastikan tampil memeriahkan panggung runway.

Selain kemegahan panggung peragaan busana, gelaran JFW 2026 juga dimeriahkan oleh fashion exhibition yang menghadirkan sebanyak 132 booth Industri Kecil dan Menengah (IKM) unggulan.

Tidak hanya itu, panitia juga menyediakan ruang interaktif melalui sesi Fashion Talk bersama berbagai komunitas mode dan kreatif.

“Kami berharap Jogja Fashion Week ini bukan hanya perhelatan model, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat identitas, kreativitas, dan daya saing industri fashion DIY maupun sekitarnya, yang nantinya bisa merambah ranah nasional dan global,” pungkas Anton optimistis. ***

 

Berita Lainnya

Terkini