Jakarta – Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, pasar modal Indonesia justru menunjukkan tren positif dari sisi partisipasi publik.
Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan akibat sentimen luar negeri, basis investor domestik terus memperlihatkan pertumbuhan yang impresif.
Berdasarkan data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia melonjak drastis dengan penambahan 1,74 juta investor baru hanya dalam waktu satu bulan.
Secara tahunan (year-to-date), angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 30,06 persen, membawa total investor di tanah air menyentuh angka 26,49 juta.
Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan SJK Terintegrasi, Agus Firmansyah, menilai pertumbuhan ini sebagai bukti asar modal kian menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengelola kekayaan.
“Kami melihat resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik tetap terjaga dengan baik. Meskipun terjadi dinamika global, minat masyarakat untuk berinvestasi melalui instrumen reksa dana dan saham terus meningkat secara signifikan,” ujar Agus dalam keterangannya.
Meski IHSG sempat terkoreksi 1,30 persen ke level 6.956,80 akibat aksi wait-and-see pelaku pasar terhadap kondisi energi dunia, industri reksa dana justru tampil gemilang.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana tercatat tumbuh positif menjadi Rp711,89 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang oleh tingginya kepercayaan investor lokal untuk terus melakukan pembelian unit penyertaan (net subscription) yang mencapai Rp8,11 triliun secara bulanan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi aset mulai dipahami dengan baik oleh para pemodal di Indonesia.
Kepercayaan investor tidak tumbuh begitu saja tanpa adanya perbaikan sistem.
Langkah OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menjalankan reformasi transparansi—seperti penyediaan data kepemilikan saham di atas 1 persen dan peningkatan batas minimum free float—kini membuahkan hasil di kancah internasional.
Agus Firmansyah menambahkan bahwa pengakuan dari lembaga global seperti FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market merupakan sinyal positif bagi iklim investasi nasional.
“Reformasi transparansi pasar modal yang kita lakukan telah memperoleh capaian positif. Pengakuan dari indeks global seperti FTSE dan MSCI membuktikan bahwa langkah strategis otoritas dalam memperkuat integritas pasar telah berada di jalur yang tepat,” tambahnya.
Pasar modal juga tetap menjalankan fungsinya sebagai pilar pembiayaan bagi dunia usaha. Hingga April 2026, nilai penggalangan dana oleh korporasi telah mencapai Rp56,35 triliun.
Dengan adanya 71 rencana penawaran umum dalam antrean (pipeline) senilai Rp49,84 triliun, pasar modal diprediksi akan tetap menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.
Melalui penguatan literasi dan kebijakan pendalaman pasar, OJK optimis bahwa pasar modal Indonesia akan semakin inklusif dan mampu menghadapi tantangan ketidakpastian ekonomi global dengan lebih tangguh. ***

