Jakarta – Di tengah perubahan besar yang mengguncang tatanan ekonomi dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang bersejarah untuk tampil sebagai salah satu kekuatan utama Global South.
Wakil Ketua Umum Bidang Transformasi Teknologi, UMKM, dan Digitalisasi KADIN Indonesia Teguh Anantawikrama menilai berbagai megatren global hingga 2050 justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing dan pengaruhnya di tingkat internasional.
Pandangan tersebut disampaikan Teguh melalui artikel berbahasa Inggris bertajuk ‘Indonesia Must Lead the Global South in the Age of AI and Geopolitical Fragmentation,’ Kamis, 11 Juni 2026.
Menurut Teguh Anantawikrama berbagai asumsi lama yang selama tiga dekade membentuk era globalisasi kini mulai memudar, digantikan oleh berbagai megatren baru yang akan menentukan arah dunia hingga 2050.
Ia menyebut kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perubahan iklim, rivalitas geopolitik, serta pergeseran demografi menjadi faktor utama yang akan membentuk lanskap ekonomi global di masa depan.
“AI sedang mendefinisikan ulang produktivitas, perubahan iklim mengubah geografi ekonomi, rivalitas geopolitik memecah rantai pasok global, dan perubahan demografi mengubah fondasi pasar tenaga kerja,” ujarnya.
Mengacu pada laporan ‘Towards 2050: Megatrends in Industry, Politics and the Global Economy 2026 Edition’ dari BMI, Teguh Anantawikrama mengatakan AI dan otomatisasi telah muncul sebagai kekuatan paling disruptif di seluruh industri dan perekonomian dunia hingga 2050.
Kata dia dampaknya bahkan dinilai melampaui perubahan iklim maupun risiko geopolitik dari sisi cakupan pengaruhnya.
“Di tengah perubahan besar tersebut, Indonesia dinilai tidak hanya menghadapi tantangan, tetapi juga peluang bersejarah,” cetusnya.
Menurut Teguh Anantawikrama, kebangkitan negara-negara Global South telah mengubah keseimbangan kekuatan dunia. Negara berkembang kini menyumbang hampir 60 persen produk domestik bruto (PDB) global berdasarkan paritas daya beli.
Sementara itu kelompok BRICS yang telah diperluas merepresentasikan sekitar 46 persen populasi dunia dan lebih dari sepertiga output ekonomi global.
Indonesia, lanjut Teguh Anantawikrama, memiliki kombinasi kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara berkembang lainnya.
Dengan jumlah penduduk sekitar 285 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan PDB melampaui 1,5 triliun dolar Amerika Serikat, cadangan mineral kritis yang melimpah, serta posisi geopolitik strategis yang menjembatani Timur dan Barat, Indonesia memiliki modal besar untuk tampil sebagai pemain utama dunia.
Namun, era AI menuntut strategi pembangunan baru. Ia pun menekankan pentingnya demokratisasi adopsi AI agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sektor pertanian, perikanan, pariwisata, pendidikan, hingga pelayanan publik.
“AI harus menjadi pengganda produktivitas bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan sekadar alat bagi korporasi besar,” tegasnya.
Selain itu, Indonesia juga harus bertransformasi dari sekadar pengekspor sumber daya alam menjadi negara pencipta nilai tambah.
Menurutnya, hilirisasi harus terus diperkuat. Nikel tidak cukup hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi harus menjadi baterai.
Industri baterai kemudian berkembang menjadi kendaraan listrik, hingga akhirnya melahirkan ekosistem manufaktur maju yang berdaya saing tinggi.
Pada saat yang sama, rantai pasok global kini bergeser dari orientasi efisiensi menuju ketahanan.
Posisi Indonesia yang berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik menjadi keuntungan strategis karena hampir 40 persen perdagangan maritim dunia melintasi perairannya.
“Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk berkembang menjadi pusat manufaktur, logistik, digital, dan energi bagi kawasan Indo-Pasifik,” katanya.
Teguh Anantawikrama juga mengingatkan kepemimpinan iklim seharusnya dipandang sebagai peluang ekonomi, bukan semata kewajiban lingkungan.
Indonesia memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia, salah satu kawasan hutan tropis terbesar, serta sekitar 40 persen potensi panas bumi global. Seluruh sumber daya tersebut dapat menjadi modal penting dalam mendorong ekonomi hijau dan transisi energi.
Di sisi lain, sistem internasional masa depan diperkirakan akan bersifat multipolar. Dalam situasi tersebut, kekuatan Indonesia tidak terletak pada keberpihakan kepada salah satu kubu, melainkan pada kemampuannya membangun jembatan kerja sama.
Melalui ASEAN, BRICS, G20, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta berbagai bentuk kerja sama Selatan-Selatan, Indonesia berpeluang tampil sebagai penghubung strategis antara negara maju dan negara berkembang.
“Indonesia memiliki populasi, sumber daya, letak geografis, kredibilitas diplomatik, dan potensi ekonomi untuk menjadi salah satu kekuatan utama Global South,” ujar Teguh Anantawikrama.
Ia optimistis, apabila Indonesia mampu menggabungkan pemanfaatan kecerdasan buatan, transformasi industri, ketahanan iklim, pengembangan talenta, serta diplomasi strategis, Indonesia tidak hanya akan menikmati manfaat dari berbagai megatren menuju 2050.
“Indonesia akan ikut menentukan dan membentuk arah megatren tersebut,” pungkasnya.***

