Mangupura – Direktur Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kemenko KKP, Ahmad Aris, menegaskan, pemerintah tidak bisa sendirian menangani persoalan yang sangat kompleks ini.
Pemerintah punya target ambisius, yakni mengurangi 40 persen sampah yang masuk ke laut.
Masalah sampah di laut Indonesia bukan lagi hal yang bisa dianggap sepele. Kini, pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat dituntut untuk “turun tangan” bersama demi menyelamatkan ekosistem pesisir kita yang kian terancam.
“Mengurangi 40 persen itu pekerjaan luar biasa. Tanpa dukungan semua pihak, target itu mustahil tercapai,” ujar Aris di sela-sela acara peringatan *World Ocean Day* di The Nusa Dua, Minggu (7/6/2026).
Berdasarkan data KKP, dari 50 juta ton total sampah di Indonesia, sekitar 27 juta ton (40 persen) berakhir di laut.
Aris memetakan ada lima sumber utama penyebab ‘kebocoran sampah ini:
675 sungai yang melewati kawasan perkotaan dan perumahan.
12.198 desa pesisir yang berpotensi membuang sampah ke laut.
1.203 pulau kecil berpenduduk yang berbatasan langsung dengan laut.
454 pelabuhan dengan aktivitas laut yang tinggi.
Karena lokasinya yang tersebar, strategi penanganannya pun harus berbeda-beda di tiap wilayah.
Salah satu contoh nyata yang bisa ditiru adalah TPS3R Desa Adat Seminyak yang sudah beroperasi sejak 2003.
Dengan dukungan pihak swasta, mereka berhasil menerapkan konsep circular economy.
Ketua TPS3R Desa Adat Seminyak, I Komang Ruditha Hartawan, menjelaskan mereka tidak hanya memilah sampah, tetapi juga mengolah botol bekas hingga 11 ton per bulan.
Hasil olahan tersebut bahkan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Bali, I Made Dwi Arbani, mengajak korporasi lain untuk mengikuti jejak kolaborasi tersebut.
Ia mengingatkan, pariwisata Bali sangat bergantung pada kebersihan pantai.
“Kalau pantainya rusak, orang tidak akan mau datang ke Bali. Ayo, kita sama-sama berkolaborasi,” ajak Dwi.
Dwi mengungkapkan, tantangan di Bali saat ini adalah belum meratanya layanan pengangkutan sampah di sembilan kabupaten/kota.
Akibatnya, masih ada masyarakat yang membuang sampah ke sungai, yang pada akhirnya akan bermuara di laut.
Kondisi ini makin mendesak karena volume sampah di Bali terus meningkat.
Data DLHK Bali menunjukkan, rata-rata konsumsi sampah per orang saat ini sudah mencapai 1,05 kg per hari, naik dari sebelumnya yang hanya 0,75 kg per hari.***

