Tingkatkan Layanan Kesehatan Pekerja Migran, Tim Peneliti Unud Kembangkan Platform Digital Terintegrasi SITB

Tak hanya fokus pada aspek teknis sistem, riset tim peneliti Unud juga mencakup evaluasi tingkat penerimaan platform (platform acceptance evaluation) bagi para pengguna.

12 Oktober 2026, 11:33 WIB

Badung -Tim Peneliti Universitas Udayana (Unud) terus mematangkan langkah strategis dalam upaya mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) nasional, khususnya di kalangan kelompok rentan seperti Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Langkah tersebut direalisasikan melalui pengembangan platform digital layanan kesehatan yang diintegrasikan secara langsung dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Peneliti Unud, Prof. dr. I Made Ady Wirawan, M.P.H., Ph.D., dalam acara Monitoring dan Evaluasi Kemajuan Penelitian yang diselenggarakan di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana, Denpasar, Senin (12/10/2026).

Ketua Tim Peneliti Unud, Prof. dr. I Made Ady Wirawan, M.P.H., Ph.D., /dok.kabarnusa

Dalam paparannya di depan tim reviewer Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapto MSc., dan Prof. Dr. Dra. Wiwik Susana Rita, MSi., Ketua Tim Peneliti Prof Ady Wirawan mempresentasikan hasil riset berkelanjutan bertajuk “Peningkatan Kaskade Tuberkulosis pada Pekerja Migran Indonesia: Skrining, Penilaian Epidemiologis, dan Pengembangan Model Layanan Kesehatan Digital”.

Ia menegaskan pengembangan sistem digital ini difokuskan pada penguatan efisiensi dan sinergitas data kesehatan di lapangan.

Arah pengembangannya adalah integrasi dengan sistem yang saat ini sudah ada, yaitu Sistem Informasi Tuberkulosis atau SITB.

“Ada beberapa opsi integrasi yang kami kaji, baik melalui opsi integrasi penuh maupun mekanisme bridging sesuai dengan arah pemikiran dan kebutuhan teknis,” ujar Prof. Ady.

Prof. Ady menjelaskan prinsip utama yang disepakati oleh tim peneliti bersama para pemangku kepentingan mencakup tiga aspek mendasar, yakni efisiensi sumber data, interoperabilitas antar-sistem, serta jaminan aksesibilitas dan keberlanjutan layanan.

Melalui pendekatan tersebut, tim telah memetakan nilai tambah (added value) dari proses migrasi serta integrasi data tersebut.

Tak hanya fokus pada aspek teknis sistem, riset ini juga mencakup evaluasi tingkat penerimaan platform (platform acceptance evaluation) bagi para pengguna.

Pengujian dilakukan terhadap sejumlah responden untuk mengukur kemudahan penggunaan, tingkat usability, persepsi pengguna, hingga tingkat niat (intention) untuk memanfaatkan sistem secara rutin.

“Dari hasil evaluasi tersebut, kami melakukan serangkaian perbaikan dan penyempurnaan secara berkelanjutan agar platform digital ini menjadi jauh lebih mudah dimanfaatkan, lebih lincah (agile), serta memiliki usability yang unggul sehingga mendorong dorongan kuat dari para penggunanya,” tambahnya.

Rangkaian riset dan pengembangan platform ini juga melibatkan proses kolaboratif yang intensif (co-creation) bersama para calon pengguna dan pihak terkait.

Berbagai aktivitas kunci telah dilaksanakan, mulai dari pemeriksaan skrining radiologi TBC bagi para calon PMI hingga pelaksanaan workshop formulasi layanan.

Opsi integrasi teknis ini akan terus dimatangkan melalui kajian teknis mendalam bersama pengelola SITB di tingkat pusat serta para pengelola program TBC daerah guna memastikan implementasi model layanan kesehatan digital ini berjalan optimal bagi seluruh Pekerja Migran Indonesia.***

Berita Lainnya

Terkini