Denpasar — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini merambah sektor pendidikan di Provinsi Bali melalui langkah strategis yang diinisiasi oleh Telkomsel bersama Pemerintah Provinsi Bali, Gasing Academy, dan Kuncie.
Melalui ekosistem pembelajaran “AI for Education”, kolaborasi ini difokuskan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal, khususnya dalam hal peningkatan kemampuan numerasi dan literasi digital bagi para pelajar maupun tenaga pendidik.
Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam acara resmi yang berlangsung di Gedung Wiswasabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (14/8). Program ini memadukan pendekatan metode pembelajaran matematika yang interaktif dengan pemanfaatan teknologi cerdas berbasis digital.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya penguatan kemampuan dasar seperti numerasi guna mencetak generasi muda yang terbiasa berpikir logis, berbasis data, serta adaptif terhadap kemajuan zaman.
“Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun SDM Bali Unggul, karena kemampuan numerasi akan membentuk generasi yang terbiasa berpikir logis, bekerja berbasis data, dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Kami mengapresiasi inisiatif Telkomsel dan Prof. Yohanes Surya yang menghadirkan program ini di Bali, dan kami siap mendorong kolaborasi yang lebih luas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Bali,” ujar Gubernur Koster.
Lebih lanjut, Gubernur Koster menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan harus senantiasa diimbangi dengan kapasitas sumber daya manusia yang mumpuni agar siswa memiliki kemampuan berpikir kritis serta pemecahan masalah yang matang.
Dalam implementasinya, program ini menggabungkan metode pembelajaran GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan) yang dikembangkan oleh Prof. Yohanes Surya Ph.D. Sistem pembelajaran tersebut diperkuat melalui platform berbasis permainan bernama Sacred Octagon, yang memanfaatkan teknologi AI untuk membantu anak-anak mempelajari konsep matematika secara bertahap dan interaktif.
Meskipun mengandalkan perangkat digital dan kecerdasan buatan, konsep “AI for Education” tetap menempatkan tenaga pendidik sebagai pusat utama proses pengajaran. Teknologi difungsikan sebagai alat bantu guna menciptakan pengalaman belajar yang selaras dengan tingkat pemahaman masing-masing siswa.
Telkomsel terus menegaskan posisinya sebagai digital ecosystem enabler terdepan di Indonesia dengan mengakselerasi adopsi teknologi mutakhir berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) dan jaringan generasi kelima (5G).
Langkah strategis ini dihadirkan untuk menjawab tantangan industri modern sekaligus memperkuat daya saing ekonomi digital nasional di kancah global
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menjelaskan pemanfaatan teknologi cerdas kini telah menjadi fondasi utama dalam operasional perusahaan maupun layanan publik.
Melalui integrasi AI yang masif, Telkomsel tidak hanya fokus pada peningkatan pengalaman pelanggan (customer experience), tetapi juga mengoptimalkan keandalan infrastruktur jaringan telekomunikasi hingga ke pelosok negeri.
Nugroho menjelaskan penguatan numerasi memegang peranan krusial yang melampaui kemampuan berhitung semata.
“Transformasi digital menuntut kita untuk terus bergerak adaptif. Telkomsel konsisten menghadirkan solusi bernilai tambah melalui pemanfaatan kapabilitas berbasis AI dan ekosistem digital yang inklusif guna mendukung percepatan transformasi digital di Indonesia,” ujar Nugroho dalam berbagai kesempatan strategis perusahaan.
Senada dengan hal tersebut, Pencetus Metode GASING, Prof. Yohanes Surya Ph.D., mengungkapkan pendekatan yang menyenangkan dapat mengubah cara pandang siswa terhadap bidang studi eksakta.
“Pendekatan GASING dirancang agar matematika dapat dipelajari secara sederhana, bertahap, dan menyenangkan. Ketika guru semakin percaya diri mengajar dan anak tidak lagi takut mencoba, proses pembelajaran akan membawa perubahan,” tutur Prof. Yohanes Surya.
“Pendekatan GASING dirancang agar matematika dapat dipelajari secara sederhana, bertahap, dan menyenangkan. Ketika guru semakin percaya diri mengajar dan anak tidak lagi takut mencoba, proses pembelajaran akan membawa perubahan,” tutur Prof. Yohanes Surya. ***

