Lebih Dekat dengan Anak daripada HP: Pesan Mendukbangga untuk Para Ayah

Mendukbangga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji mengungkapkan data mengejutkan: sekitar 25 persen anak Indonesia atau kurang lebih 46 juta anak mengalami fatherless atau kehilangan sosok ayah dalam pengasuhan mereka.

29 Juni 2026, 19:59 WIB

Yogyakarta– Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti kondisi keluarga di Indonesia yang kini menghadapi tantangan serius.

Dalam acara Ngopi Lintas 3 Generasi di Plaza Pemkot Yogyakarta, Jumat (26/6/2026), ia mengungkapkan data mengejutkan: sekitar 25 persen anak Indonesia atau kurang lebih 46 juta anak mengalami fatherless atau kehilangan sosok ayah dalam pengasuhan mereka.

Wihaji memperingatkan, fenomena ini berdampak langsung pada kesehatan mental anak.

Data menunjukkan 34-35 persen anak Indonesia saat ini mengalami gangguan kesehatan mental, bahkan setengah dari jumlah tersebut berisiko mengalami gangguan jiwa yang lebih serius.

Menurut Wihaji, salah satu pemicu utamanya adalah hadirnya handphone*yang justru lebih sering menemani anak daripada orang tuanya sendiri.

“Ada keluarga baru kita yang mendampingi anak 8-10 jam, yaitu handphone. Sementara orang tua rata-rata hanya mengobrol dengan anak 5-10 menit sehari, itu pun hanya seputar tanya sudah makan atau belum,” ujarnya.

Terkait kebijakan mewajibkan ayah mengambil rapor anak, Wihaji menegaskan bahwa ini bukan untuk merepotkan orang tua.

Sebaliknya, langkah ini adalah cara untuk memulihkan peran psikologis ayah yang selama ini sering terabaikan karena alasan kesibukan mencari nafkah.

“Program ayah mengambil rapor adalah pengingat bahwa tugas ayah bukan hanya soal ekonomi atau bayar SPP, tapi juga hadir secara psikologis untuk anak,” tambahnya.

Yogyakarta dipilih sebagai kota percontohan pembangunan keluarga nasional. Namun, tantangannya tidak ringan.

Mengingat statusnya sebagai kota pelajar yang majemuk, angka depresi dan gangguan mental di wilayah ini tercatat cukup tinggi.

Wihaji pun berpesan agar para orang tua, terutama ayah, mulai berani meletakkan gawai dan meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak.

“Jangan salahkan anak jika sulit dinasihati, kalau orang tuanya saja tidak pernah mengobrol karena sibuk dengan urusan masing-masing,” tegasnya.

Menanggapi arahan tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti.

Pihaknya berencana memperkuat sistem screening kesehatan mental yang terintegrasi, mulai dari sekolah, Puskesmas, hingga rumah sakit, demi menjamin kesehatan mental generasi muda di Yogyakarta.***

Berita Lainnya

Terkini