Deteksi Dini Kanker Payudara : Harapan Kesembuhan Ada di Tangan Kita

Kanker bisa disembuhkan total jika terdeteksi sejak stadium awal. Jadi sebenarnya ini penyakit yang bisa disembuhkan

27 Agustus 2026, 12:12 WIB

YogyakartaKanker payudara masih menjadi momok besar bagi perempuan Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2022 mencatat, penyakit ini menempati posisi teratas sebagai penyebab kematian akibat kanker di tanah air, Rabu (26/8).

Peluang kesembuhan sangat tinggi bila kanker terdeteksi sejak stadium awal. Hal ini ditegaskan oleh Dr. dr. Prima Dhewi Ratrikaningtyas, M.Biotech., Dosen Departemen Biostatistika, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM.

Menurutnya, kanker payudara bukanlah vonis tanpa harapan. “Kanker bisa disembuhkan total jika terdeteksi sejak stadium awal. Jadi sebenarnya ini penyakit yang bisa disembuhkan,” ujarnya.

Kenyataan di lapangan menunjukkan banyak pasien baru memeriksakan diri saat penyakit sudah masuk stadium lanjut. Budaya masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan rutin sebelum muncul rasa sakit menjadi salah satu penghambat.

“Kalau belum sakit, belum ingin diperiksa. Kesadaran untuk check up rutin masih rendah,” jelas Prima. Selain itu, ketakutan terhadap diagnosis, prosedur operasi, hingga biaya pengobatan sering membuat pasien menunda langkah medis dan beralih ke pengobatan alternatif.

Prima mengingatkan, pengobatan alternatif tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan penanganan medis utama. Untuk menekan angka keterlambatan penanganan, Prima mengimbau perempuan muda agar mengenali faktor risiko.

Ada faktor yang tidak bisa diubah, seperti jenis kelamin, usia, dan riwayat keluarga. Namun ada pula faktor yang bisa dikendalikan melalui pola hidup sehat. Salah satu langkah sederhana adalah melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) secara rutin setiap bulan.

SADARI itu mudah dilakukan, hanya perlu promosi kesehatan yang lebih masif,” katanya. Prima menekankan, deteksi dini bukan hanya tanggung jawab individu. Dukungan tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan terutama keluarga sangat penting agar pasien tidak ragu memeriksakan diri.

“Semua harus bersama-sama. Keluarga juga harus support,” paparnya. Ia menutup dengan pesan kuat : mencegah lebih baik daripada mengobati. Mengubah pola pikir masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan adalah kunci menurunkan angka kematian akibat kanker payudara.

“Semangatnya harus bareng-bareng. Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini